Sabtu, 01 Oktober 2016

Pohon Ara Yang Tidak Berbuah

“Seorang yang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan dia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya,” (Lukas 13:6).
Membaca perikop ini kita akan teringat sebuah nyanyian nabi Yesaya tentang kebun anggur. Tertulis, “Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur. Ia mencangkulnya dan membuang batu-barunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia medirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam.” (Yesaya 5:1b-2). Ini adalah ratapan nabi Yesaya mengenai kegagalan bangsa Israel yang digambarkan seperti pohon anggur yang gagal menghasilkan buah anggur yang baik, justru yang dihasilkan adalah buah yang asam. Ratapan inilah yang mengilhami Yesus dalam mengisahkan perumpamaan pada perikop ini (Lukas 13:6-9).
Secara geografis daerah Palestina dikenal sebagai wilayah pegunungan yang sangat subur, sehingga tanaman buah-buahan banyak tumbuh di sana : zaitu, anggur, delima dan juga pohon ara. Karena kondisi tanahnya yang sangat subur, pohon ara pun dapat bertumbuh subur di mana-mana. Tapi pohon ara dalam perikop ini sungguh aneh dan lain dari pada yang lain, karena pohon ara ini ditanam secara khusus di dalam kebun anggur. Artinya pohon ara ini beroleh perlakuan yang sangat istimewa dari pemilik kebun anggur. Tetapi kenyataannya pohon ara tersebut tetap saja tidak menghasilkan buah. Dikatakan, “Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya.” (Lukas 13:7a). Pada tahun pertama masih bisa dimaklumi, mungkin masih terlalu muda untuk berbuah. Namu sampai pada tahun ketiga pohon ara itu tetap saja tidak menghasilkan buah. Pohan ara itu telah mengecewakan! Lalu pemilik kebun itu berkata dengan tegas, “tebanglah pohon ini untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma.” (Lukas 13:7b).
Ini adalah gambaran dari kehidupan kita orang percaya; kita yang sesungguhnya berada di luar anugerah-Nya oleh kasih-Nya kita secara khusus dipilih, dipanggil menjadi umat-Nya, dan diangkat sebagai anak-anak Allah dan diselamatkan. Suatu anugerah yang luar biasa! Sebagai umat-Nya, marilah kita secara aktif berbuat, menghasilkan sesuatu yang berguna, serta tekun berusaha melalui setiap panggilan pelayanan yang diberikan, sehingga bisa menjadi berkat dimana pun kita berada.
(YK/ Pohon Ara Yang Tidak Berbuah/GKP Jemaat Effatha, Cakung/gloopic.net/Jala).

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar