Sabtu, 01 Oktober 2016

Berdoa Bagi Bangsa

Tak seorang pun dari kita tidak bisa berdoa, bukan? Namun banyak orang kristen yang tidak berdoa. Alasannya klise: capai, sibuk dan tidak ada waktu? Benarkah? Bukankah kita diberi waktu selama 24 jam dalam sehari? Adakah kesemuanya habis untuk aktivitas kita? Jika kita bisa menyediakan waktu untuk bersantai, rekreasi, shopping ke mall, menyalurkan hobi, kongkow-kongkow dengan teman, masakan kita tidak punya waktu untuk berdoa? Ternyata jika ada masalah berat melanda kita langsung “tancap gas” berdoa terus menerus. Namun setelah masalah selesai kita kembali ke asal : malas berdoa. Tuhan Yesus mengingatkan, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan : roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41).
Berdoa adalah tugas paling dasar bagi orang Kristen. Orang Kristen yang tekun berdoa adalah orang Kristen yang normal. Seringkali kita hanya berdoa untuk kepentingan dan kebutuhan diri sendiri dan sedikit orang mau berdoa syafaat bagi orang lain : teman, gereja, bangsa atau pun pelayanan Injil. Nehemia meski sudah berhasil di negeri orang, tidak pernah melupakan bangsanya. Ketika mendengar bahwa bangsanya sedang terpuruk ia pun berdoa dan juga berpuasa untuk bangsanya. Dengan kerendahan hati ia bersimpuh kepada Tuhan : memohon pengampunan dan belas kasihan-Nya, “berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-MU siang dan malam bagi orang Israel, hamba-hamba-Mu itu, dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa.” (Nehemia 1:6).
Yang pertama kali Nehemia mohonkan kepada Tuhan adalah pengampunan atas bangsanya, sebab pengampunan adalah awal pemulihan. Ia sangat percaya akan kekuatan doa yang pasti dapat mengubah segala sesuatu! Tuhan berkata, “dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-KU, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta mumulihkan negeri mereka.”(2 Tawarikh 7:14).
Seperti halnya Nehemia, bagaimanakah dengan kita saat ini? Apakah kita juga mimiliki kepedulian dengan keadaan bangsa kita dan apakah kita sudah melakukan upaya memberi yang terbaik bagi bangsa kita sebagai pribadi dan sebagai persekutuan dalam jemaat, terlebih dalam mamasuki usia Republik Indonesia yang ke 71 Tahun. Marilah kita mengadakan perubahan yang baik mulai dari sendiri, kemudian ditularkan dalam kehidupan berkeluarga, menyebar ke gereja dan berdampak bagi bangsa. Jika Nehemia saja yang berada di luar negeri berjuang untuk membangun kesejahteraan/kemajuan negerinya, terlebih kita yang berada tinggal bersama di tanah air tercinta.
(YK/ Berdoa Bagi Bangsa/Jemaat Effatha, Cakung/gloopic.net/Jala).

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar