Jumat, 30 September 2016

Pemandangan Dari Atas Gunung

Lembah tempat tinggal kami di Negara bagian Idaho bisa menjadi sangat dingin pada musim dingin. Awan dan kabut menyelimuti tanah, memerangkap udara beku di bawah lapisan udara yang lebih hangat di atasnya. Namun Anda dapat mencapai bagian di atas lembah tersebut. Ada jalan terdekat yang mengitari sisi dari Shafer Butte, sebuah gunung setinggi 2.200 Meter yang menjulang dari tengah lembah. Setelah berkendara beberapa menit, Anda mulai keluar dari kabut, dan segera merasakan kehangatan dan cerahnya sinar matahari. Anda dapat melongok ke bawah pada awan-awan yang menutupi lembah dan melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
Terkadang hidup juga seperti itu, Keadaan di sekitar kita seakan dilingkupi kabut yang tak dapat ditembus oleh sinar matahari. Namun demikian Iman menjadi jalan bagi kita untuk mencapai bagian di ats lembah, sarana kita dalam mencapai “perkara yang di atas” (Kol 3:1). Ketika kita beriman, Tuhan akan memampukan kita untuk bangkit mengatasi keadaan yang ada, dan kita memperoleh keberanian dan ketenangan untuk menghadapi hari yang akan kita jalani. Rasul Paulus menulis : “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam sagala hal” (Flp 4:11).
Kita dapat mengatsi kesesakan dan kemurungan kita. Kita dapat bediam sejenak dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, kerena Kristus telah memberikan kekuatan kepada kita (Flp 4:13).
(David Roper/Pemandangan Dari Atas Gunung/GKP Jemaat Effatha, Cakung/gloopic.net/Jala)

Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas.

Ya Tuhan, meskipun aku tidak selalu melihat-Mu atau melihat apa yang sedang Engkau kerjakan, aku tetap percaya pada Kasih-Mu kepadaku.

Iman dapat mengatasi ketakutan Anda.

Artikel Terkait

Penyakit Ikan Koi

Sebuah kolam di depan sebuah gedung. Tidak terlalu luas, berisi ikan-ikan koi. Cukup banyaknya. Ada yang putih, sama sekali putih. Ada yang beleng-belang hitam, merah, dan oranye. Bagus sekali. Memprihatinkan ikan-ikan koi itu sungguh menarik. Yang aneh, tampaknya di antara ikan-ikan itu pengelompokan. Yang putih berkumpul dengan putih. Demikian juga yang belang berkumpul dengan yang belang. Padahal mereka sama-sama dengan ikan koi. Sesekali memang mereka berkumpul bersama-sama, terutama ketika berebut makanan, tetapi akhirnya selalu mengelompok lagi. Dan, rupanya ada dua ekor ikan mas kecil di kolom itu. Sungguh kontras, keduanya kelihatan begitu kecil dan jelek dibanding ikan-ikan koi. Bisa jadi karena itu keduanya cenderung dijauhi. Coba saja perhatikan, tak sekali pun kedua ikan mas itu bisa berkumpul dengan para ikan koi. Setiap kali mereka mendekat, ikan-ikan koi segera menghindar. Hingga kedua ikan mas kecil itu seperti terasing di tengah lingkungannya sendiri. Apa itu hanya insting? Atau jangan-jangan di dunia ikan juga ada kecenderungan primordialistis, atau pengelompokkan berdasarkan kesamaan terbatas? Entahlah.
Yang pasti dalam kehidupan manusia, juga di Indonesia, gaya hidup semacam primordialisme ala ikan koi itu cukup kuat terasa. Di dunia politik, orang dari partai yang satu hanya mau bekerja dan bergaul dengan sesama anggota partai. Kalaupun bergaul/bekerjasama dengan orang partai, pasti karena ada kepentingan yang kebetulan sama. Kalau beda? Ya, bubar lagi! Dalam pergaulan lintas agama pun sami mawon. Orang hanya mau bekerjasama dengan penganut agama tertentu; kalau ada kepentingan bersama, barulah ada kerjasama. Jika tidak? Ya, elu-elu, gue-gue! Tidak jarang malah, perbedaan menjadi alasan untuk bertikai.
Bangsa Israel dalam Mazmur 122 digambarkan terdiri dari beragam suku. Potensi perpecahaan sangat besar. Namun demikian, hanya iman kepada Tuhan yang bersemayam di Bait Allah di Yerusalem lah yang membuat mereka bisa bersatu. Sesungguhnya Tuhan menghendaki kita hidup rukun bersama semua orang sehingga kita terhindar penyakit primordialistis ala ikan koi.
(JNM/ Penyakit Ikan Koi/GKP Jemaat Effatha, Cakung/gloopic.net/Jala)

Artikel Terkait

Ratapan Menjadi Tarian

Ketika pergumulan berat seolah tanpa jalan keluar tentu kita akan merasa hidup kita gelap. Namun ketika jalan keluar terlihat di depan mata, tentu kita akan merasakan sukacita yang luar biasa.
Sukacita itulah yang dialami Hana, ketika Tuhan menjawab doanya. Hana dikarunia seorang anak, yang diberi nama Samuel (1 Sam 1:27-28). Berdasarkan pengalamannya dengan Tuhan melalui doa yang terjawab itu, Hana melihat semua keajaiban sifaf Allah. Ia menyebut bahwa Tuhan itu kudus, unik, dan menjadi perlindungan bagi manusia. Pujian Hana mengungkapkan kebaikan Tuhan yang telah mengangkatnya dari keadaan terhina menurut pandangan munusia, menjadi terhormat.
Pengalaman rohani Hana bersama Tuhan mengubah keadaan hidupnya. Ejekan penghinaan yang merendahkannya dibungkam oleh Allah (1 Sam 2:3-5). Penderitaan dan rasa malu berganti dengan kehidupan yang penuh semangat karena mengalami kedahsyatan Allah. Tuhan telah mengubah perkara yang mustahil menjadi fakta nyata. Karena itu dalan sukacitanya. Hana memuji dan mengagungkan Allah. Hana menyatakan bahwa Allah yang berdaulat atas segala sesuatu : hidup dan matinya manusia, pemimpin, perempuan mandul, perbedaan status, hidup orang jahat, dan atas raja (4-10).
Apa yang Hana alami dapat juga dialami oleh setiap percaya. Kita mungkin mengalami masalah dalam hal keuangan, usaha yang bangkrut, sakit penyakit yang sulit disembuhkan, persoalan keluarga, kemandulan, anak yang bermasalah, jodoh, dan lain-lain. Namun sama seprti Hana yang ditolong Tuhan, orang percaya juga bisa mengalami pertolongan Tuhan.
Melalui pujian Hana ini, kita dapat belajar bahwa apa pun yang menjadi masalah dan seberat apa pun pergumulan kita, mari kita berharap dan bergantung kepada Allah. Panjatkanlah doa yang sungguh-sungguh dengan tetap mengagungkan Dia, Allah yang berdaulat atas seluruh hidup manusia. Karena Tuhan kita adalah Tuhan yang dapat mengubah ratapan menjadi tarian, duka menjadi suka,
(YK/ Ratapan Menjadi Tarian/GKP Jemaat Effatha, Cakung/gloopic/Jala)

Langkah-Langkah Bayi

Bayi saya sedang belajar berjalan. Saya harus memegangnya, dan ia pun bergantung pada jari-jari saya karena ia masih belum mantap untuk berdiri sendiri. Ia takut terpeleset, tetapi saya ada di dekatnya untuk menolong dan menjaganya. Ketiga ia berjalan dengan bantuan saya, rasa terima kasih, bahagia, dan aman terpancar dari matanya yang bersinar-sinar. Namun terkadang ia menangis apabila saya tidak mengizinkannya untuk melangkah ke tempat-tempat yang berbahaya. Ia tidak meyadari bahwa saya sedang melindunginya.
Seperti anak saya yang masih bayi itu, kita sering membutuhkan seseorang untuk menjaga, menuntun, dan memegang kita dengan kuat di tengah perjalanan Iman kita. Dan kita memang memilikinya, yaitu Allah Bapa kita. Dia menolong anak-anak-Nya untuk belajar berjalan, menuntun kita langkah demi langkah, memegang tangan kita, dan menjaga kita untuk tetap berjalan di jalur yang benar.
Raja Daud menyadari sekali kebutuhan dirinya akan pemeliharaan Allah yang menjaga hidupnya. Dalam Mazmur 18, ia menggambarkan bagaimana Allah memberikan kita kekuatan dan tuntunan ketika kita kehilangan arah atau dalam kebingungan (Ay 33). Dia meneguhkan kaki kita, seperti kaki rusa yang  dapat memanjat bukit tanpa terpeleset (Ay 34). Dan kalau pun kita terpeleset, tangan-Nya menyongsong kita (Ay 36).
Baik yang baru percaya dan sedang belajar melangkah dalam perjalanan Iman,maupun yang sudah lebih dahulu berjalan bersama  Allah, kita semua terus membutuhkan tuntunan tangan-Nya yang meneguhkan kita.
(Keila Ochoa/Langkah-langkah Bayi/GKP Jemaat Effatha, Cakung/Gloopic/Jala).

Ya Bapa, peganglah tanganku dan pimpinlah aku di jalan hidup yang benar.
Allah menjaga setiap langkah kita di sepanjang perjalanan.            

Artikel Terkait

Mudahnya Tidak Bersyukur

Krek, krik, krek, krik ...................
Bunyi alat penyeka kaca depan mobil yang bergerak naik-turun membersihkan terpaan air hujan yang hebat hanya menambah kekesalan hati saya. Saya masih mencoba menyesuaikan diri untuk mengendarai sebuah mobil bekas yang saya beli belum lama ini. Yang saya kendarai adalah mobil tua jenis station wagon yang sudah berjarak tempuh 128.000 Km dan tanpa kantong udara yang dapat anak-anak saya.
Untuk membeli mobil bekas itu, dan agar memiliki sedikit uang untuk belanja  kebutuhan sehari-hari yang sangat mendesak, saya harus menjual “harta” terakhir kami, yaitu sebuah mobil station wagon Volvo keluaran 1992 dengan kantong udara untuk melindungi anak-anak. Dengan terjualnya mobil itu, kami pun tidak punya apa-apa lagi. Rumah dan tabungan  kami semuanya habis membiayai pengobatan penyakit yang hampir merenggut nyawa.
“Tuhan” teriak saya, “Sekarang aku bahkan tak bisa melindungi anak-anakku karena mobil ini tak punya kantong udara. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada mereka, tebak apa yang akan kulakukan.......”
Krek, krik, krek, krik.. (Glek)
Tiba-tiba saja saya merasa malu. Selama dua tahun sebelumnya, Allah telah meyelamatkan isteri dan putra saya dari penyakit yang hampir merenggut nyawa mereka, tetapi sekarang saya mengeluh “harta” saya yang telah hilang. Saya pun menyadari betapa mudahnya untuk tidak bersyukur kepada Allah. Bapa yang penuh kasih, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri supaya saya selamat, sudah pernah menyelamatkan nyawa anak saya dengan cara-Nya yang ajaib.
“Ampuni aku, Bapa,” doa saya. Sudah, anak-Ku.
(Randy Kilgore/Mudahnya Tidak Bersyukur/GKP Jemaat Effatha, Cakung/Gloopic/Jala).

Ya Tuhan, saat pencobaan melanda, betapa mudah kami melupakan perlindungan dan penyertaan-Mu. Terpujilah Engkau ya Bapa, untuk kesabaran dan kasih-Mu yang tak bersyarat dan tak berkesudaha.

Karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur (Ibrani 12:28).

Artikel Terkait

Penolong Diam-Diam

Penemuan penisilin membawa revolusi dalam dunia kesehatan. Sebelum dekade 1940-an, infeksi bakteri sering kali berakibat fatal. Setelah penemuan itu, tak terhitung jumlah orang yang terselamatkan oleh keampuhan penisilin dalam membunuh bakteri yang berbahaya. Para ilmuan yang mengenali potensi penisilin dan mengembangkannya untuk digunakan secara luas itu menerima hadiah Nobel pada tahun 1945.
Jauh sebelum penisilin ditemukan, ada pembunuh diam-diam lainnya yang bekerja menyelamatkan nyawa dengan cara menghancurkan bakteri, yakni sel-sel darah putih. Cara kerja sel-sel  itu merupakan cara Allah untuk melindungi kita dari penyakit. Tidak seorang pun tahu berapa banyak serangan yang telah berhasil dihentikan atau berapa banyak nyawa yang telah diselamatkan oleh sel-sel darah putih. Namun sel-sel yang sangat berjasa itu tidak terlalu mendapatkan perhatian kita.
Demikian pula perlakuan kita terhadap Tuhan. Dia sering dipersalahkan ketika terjadi sesuatu yang merugikan kita, tetapi Dia jarang dipuji untuk segala hal baik yang terjadi.  Setiap hati kita bangun tidur, berpakaian, berangkat ke tempat kerja, sekolah, atau pasar swalayan, dan pulang kembali ke rumah dengan aman. Entah sudah berapa kali Allah melindungi kita dari bahaya sepanjang hari. Namun saat sesuatu yang buruk terjadi, kita bertanya, “Dimanakah Allah ?”
Ketika merenungkan segala karya menakjubkan yang Allah secara diam-dia bagi saya setiap hari (Yes 25:1), saya melihat ternyata daftar ucapan syukur saya jauh lebih panjang dari pada daftar permohonan saya.
(Julie Ackeerman Link/Penolong Diam-Diam/GKP Jemaat Effatha, Cakung/Gloopic/Jala).

Dalam hal apakah kebaikan Allah menopang dan menguatkan kehidupan Anda ? Apakah yang bisa Anda syukuri kepada-Nya hari ini ?

Artikel Terkait

Mencerminkan Kemuliaan Allah

Li Tang, seniman asal Tiongkok dari bad ke-12, sering melukiskan pemandangan alam yang diramaikan dengan gambar orang, burung dan kerbau. Karena keahliannya dalam membuat lukisan halus di atas bahan sutra, Li Tang dipandang sebagai pakar seni Tiongkok untuk lukisan pemandangan alam. Selama berabad-abad, para seniman dari mancanegara telah melukiskan apa yang mereka saksikan melalui galeri seni dari karya ciptaan Allah : "Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberikan pekerjaan tangan-Nya" (Mzm 192). Alkitab memberitahu kita bahwa kreativitas yang kita miliki sebagai manusia itu disebabkan karena kita dicipkan menurut gambar Allah, Sang Perancang Agung (Kej 127).
Allah memiliki para seniman yang bekerja dengan kayu, emas, perak, tembaga, dan batu permata untuk mencipkan segala perabotan, perkakas, mezbah, dan pakaian yang digunakan oleh bangsa Israel kuno dalam ibadah kepada-Nya di dalam Kemah Pertemuan (Kel 31-1-11). Karya seni yang melukiskan realitas rohani itu berperan sebagai petunjuk dan pedoman bagi para Imam dan umat dalam ibadah mereka kepada Tuhan yang telah memanggil mereka menjadi umat Pilihan-Nya.
Melalui berbagai rupa karya seni, kita mencerminkan keindahan alam ciptaan Allah dan memuliakan Dia, Sang Pencipta dan Penebus dunia yang menakjubkan.
(Dennis Fisher/Mencerminkan Kemuliaan Allah/GKP Jemaat Effatha, Cakung).
Ya Tuhan yang berkuasa atas seluruh semesta, Engkaulah Pencipta dan Pemberi segala kreativitas yang pada diri kami. Kiranya kami memuliakan Engkau melalui kemampuan dan kaya kami.

Artikel Terkait

Memuliakan Allah

Pagi itu di gereja, kami kedatangan sejumlah pengunjung baru. Kebaktian masih berlangsung dan pengkhotbah baru menyampaikan setengah dari khotbahnya ketika saya melihat salah satu pengunjung itu berjalan keluar. Merasa penasaran dan khawatir, saya pun keluar untuk bercerita dengannya.
"Anda keluar begitu cepat", kata saya sembari mendekatinya. "Apakah ada masalah yang saya bisa bantu?" wanita itu menjawab dengan jujur terang terangan. "Ya", katanya, "masalah saya adalah khotbah itu! saya tidak bisa menerima perkataan pengkhotbah itu". Pengkhobahnya mengatakan bahwa apa pun yang kita capai dalam hidup ini, segala pujian dan syukur hanya patut diberikan kepada Allah. "Paling tidak", wanita itu mengomel, "saya pantas menerima pujian sedikit untuk prestasi saya!".
Saya menjelaskan kepadanya ada yang dimaksudkan dengan pendeta itu. Kita memang layak diakui dan dihargai atas apa yang kita lakukan. Namun demikian, talenta dan bakat kita berasal dari Allah, sehingga Dialah yang patut dimuliakan. Bahkan Yesus, Anak Allah, berkata, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya" (Yoh 5:19). Dia mengatakan kepada pengikut-Nya, "Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuatapa-apa" (15:5).
Kita mengakui bahwa Tuhan adalah satu-satunya penolong kita dalam mencapai segala sesuatu.
(Lawrence Darmani/Memuliakan Allah/GKP Jemaat Effatha, Cakung/gloopic/Jala).

Tuhan, kiranya aku tidak lupa untuk mengakui Engkau atas segala yang Engkau lakukan untukku dan yang Engkau mampukan untuk aku lakukan.
Yesus berkata,
"Barangsiapa yang tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak".

Artikel Terkait

Ayah Yang Sayang

Setelah menempuh perjalanan panjang, kedua orang tua terlihat kewalahan menghadapi dua anak balita mereka yang tak bisa duduk diam, apalagisekarang penerbangan terakhir mereka harus didunda. Selagi mengamati kedua anak itu berlarian di rungan tunggu yang padat, saya bertanya-tanya dalam hati bagaimana sang ibu dan ayah akan menenangkan mereka selam setengah jam di pesawat dalam penerbangan kami ke Grand Rapids. Ketika akami akhirnya berada di dalam pesawat, ternyata sang ayah salah seorang anaknya duduk di belakang saya. Lalu saya mendengar ayah yang kelelahan itu berkata  kepada sang anak, “Kamu mau Ayah bacakan cerita salah satu buku ceritamu”. Dan di sepanjang penerbangan tersebut, ayah yang penuh kasih sayang itu membacakan cerita untuk anaknya dengan perlahan dan sabar sehingga anaknya dapat menjadi tenang dan memperhatikan cerita.
Dalam salah satu Mazmurnya, Daud menyatakan, “Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia” (Mzm 103:13). Kata sayang berarti menunjukkan cinta dan belas kasih. Kata yang lembut itu memberi kita sebuah gambaran tentang betapa dalamnya kasih Bapa Surgawi kepada anak-anak-Nya, dan juga mengingatkan kita akan anugerah luar biasa yang kita terima ketika kita dapat memandang Allah dan berseru, “Ya Abba, ya Bapa” (Rm 815).
Allah rindu agar anda mendengarkan lagi kisah kasih-Nya bagi anda di tengah kegelisahan hidup yang anda alami. Bapa Surgawi selalu dekat dan siap menguatkan anda dengan firman-Nya.
(Bill Crowder/Ayah Yang Sayang/GKP Jemaat Effatha, Cakung/gloopic/Jala).
Aku bersukacita dalam hadirat-Mu kepada-Mu, ya Tuhan. Hari ini aku mau bersukacita karena kasih-Mu yang tetap dan tidak berubah selamanya.

Artikel Terkait

Berduka Tapi Berbahagia

“Berbahagialah orang yang berduka cita, karena mereka akan dihibur.”Matius 5:4.

Yang namanya beduka cita pasti berbeda dengan bahagia. Duka cita adalah lawan kata dari kebahagiaan. Lalu, apakah firman yang ditulis itu tidak salah?. Duka cita atau kesedihan menyelimuti hati seseorang ketika dia ditinggalkan orang yang dikasihi, entah itu orang tua, sahabat, pacar, suami atau isteri dan sebagainya. Duka cita yang kita rasakan seolah-olah tak terobati meskipun terus dihibur oleh banyak orang. Lalu duka cita bagaimana yang dimaksud ayat di atas?.
Ada duka cita yang merupakan dosa dan ada cuka cita yang justru mendatangkan pengampunan. Duka cita yang merupakan dosa adalah kemurungan berlarut-larut karena putus as, kecewa atau kesedihan yang mendalam terhadap perkara yang sia-sia, “....... duka cita yang dari dunia ini menghasilkan kematian,” (2 Korintus 7:10).
Ada pun duka cita yang mendatangkan pengampunan adalah duka cita karena dosa, baik itu dilakukan diri sendiri, atau pun perbuatan orang lain. Inilah duka cita yang Tuhan maksudkan. Menyadari ketidaklayakan di hadapan Tuhan akibat dosa-dosa yang diperbuat akan menimbulkan rasa duka cita yang mendalam dalam diri seseorang. Orang berdosa yang telah dijamah oleh kuasa Roh Kudus tidak akan bersuka cita karena dosa-dosanya. Sebaliknya ia akan meratap dan berduka karena sadar bahwa jalan-jalannya sudah jauh dari kebenaran dan telah melukai hati Tuhan, karena hidupnya sudah tidak kudus lagi. Duka cita semacam ini akan beroleh penghiburan dari Tuhan yaitu berupa pengampunan dan kehidupan kekal. Tuhan akan merubah ratapan itu menjadi tari-tarian karena Tuhan Yesus sudah menanggung segala dosa-dosa kita di atas kayu salib. Rasa duka cita seharusnya ada di dalam hati kita setiap kali kita berbuat dosa dan menyadarinya. Duka cita ini timbul bukan karena kekuatan kita sendiri, melainkan pekerjaan Roh Kudus. Bila masih ada orang Kristen yang telah bersuka cita dan kelihatan santai-santai saja ketika melakukan dosa, berarti masih perlu dipertanyakan kelayakannya sebagai orang percaya, berarti ia belum hidup pertobatan. Ingat, tanpa pertobatan kita tidak beroleh bagian di dalam Kerajaan Sorga. Alkitab mencatat hal ini : “....... tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” (Ibrani 12:15).
(YK/Berduka Tapi Bahagia/GKP Jemaat Effatha, Cakung/Gloopic/Jala).

Duka cita menunjukkan seseorang peka dan benci terhadap dosa !!!!

Artikel Terkait

Pentingnya Keluarga

“ Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta berfirman kepada mereka : Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi,” (Kejadian 9:1).

Di Amerika Serika pada tahun 1984, dimulai sebuah komedi situasi yang berthema keluarga, berjudul “The Cosby Show.” Serial ini menceritakan tentang kehidupan keluarga dengan segala permasalahannya. Tak disangka, acara ini menempati rating tertinggi selama lima tahun, dari delapan tahun masa penayangannya.
Hal ini menunjukkan bahwa cerita tentang keluarga selalu disukai dan menempati tempat tertinggi dalam hati banyak orang . Sampai saat ini, walaupun serial televisi sangat beragam, seriel TV tentang keluarga tetap menempati hati banyak pemirsa di Amerika dan seluruh dunia.
Begitu pentingnya keluarga dalam Alkitab, sehingga bukan kebetulan jika pembuka Perjanjian Lama (Kejadian) dimulai sebuah keluarga Adam dan Hawa, sedangkan kitab Maleakhi sebagai penutup perjanjian lama mencatat tentang bencinya Allah terhadap perceraian dan kawin campur, dengan yang bukan orang percaya (Mal 2:10-16).
Perjanjian Baru dibuka dengan keluarga Yusuf dan Maria (Mat 1:18-25) dan ditutup dengan Pesta Perjamuan Kawin Anak Domba (Why 19:6-10).
Keluarga adalah hal penting yang sangat diperhatikan oleh Tuhan. Tempatkan keluarga sebagai bagian terpenting dalam hidupmu.
(YK/ Pentingnya Keluarga/GKP Jemaat Effatha, Cakung/Gloopic/Jala).

Tuhan Yesus, terima kasih untuk keluarga yang telah Tuhan berikan pada kami. Ajar kami untuk selalu menempatkan keluarga kami sebagai hidup kami demi kemiliaan nama Tuhan. Amin.”

Artikel Terkait

Bersahabat Dengan Alam

Firman Tuhan mengingatkan kembali akan relasi yang harus terjalin antara manusia dengan alam. Sejak semula Tuhan menciptakan alam sebagai sahabat bagi manusia. Manusia hidup bersama alam dan memperoleh berbagai manfaat dari alam. Manusia dapat bertahan hidup karena kekayaan alam. Kejadian 2:8-15 mengadung tiga gagasan yakni (1) karya Allah dalam menciptakan tempat tinggal bagi manusia, (2) relasi antara alam dan manusia  dan (3) tugas yang Allah bagi manusia.
Taman Eden (Eden secara harfiah berarti padang rumput) merupakan tempat di mana manusia akan menjalani kehidupannya. Tempat itu adalah tempat yang sangat kaya, berkelimpahan segala kebutuhan manusia. Di sini kita memhami bahwa Allah mencipkan Taman Eden bukan hanya sebagai tempat tinggal tetapi sebagai sumber kehidupan bagi manusia. Taman Eden juga sering diartikan taman kegirangan, sebab taman tersebut memiliki keindahan agar manusia dapat menikmatinya dan bersukacita. Tuhan Allah menciptakan Taman Eden dengan keseimbangan dan keteraturan. Empat cabang dari sungai yang mengalir di taman itu memastikan bahwa Taman Eden akan tetap subur dengan air yang cukup bagi semua tanaman. Keseluruhan keberadaan Taman Eden menggambarkan kemahakuasaan Allah atas alam semesta dan memancarkan kasih-Nya bagi manusia.
Ketika Allah menempatkan manusia di Taman Eden, Allah membangun relasi antara manusia dengan alam ciptaan-Nya. Relasi itu dibangun dengan dasar kasih, kasih Allah bagi manusia dan kasih Allah bagi alam semeta. Manusia sendiri dalam menjalin menjalin relasi dengan alam haruslah penuh kasih. Manusia harus menyadari bahwa alam adalah tempat untuk tinggal dan sumber kehidupan yakni makanan dan minuman. Oleh karena itu manusia harus mengasihi alam.
Manusia diingatkan akan tugasnya. Tuhan Allah menempatkan manusia di Taman Eden bukan hanya untuk menikmati kekayaannya tetapi juga untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Inilah hal yang penting untuk terus dihayati dalam hidup manusia. Seringkali manusia memperlakukan alam se mena-mena sebagai objek' sehingga manusia memanfaatkan alam dengan dengan sesuka hati. Bahkan mengeksplotasi alam tanpa tergerak untuk memulihkan kembali keadaan alam. Alam yang sudah memberikan kekayaannya layak untuk menerima perlakuan yang pantas. Alam perlu kasih sayang manusia. Karenanya manusia harus bertekun untuk menjaga dan memelihara alam. Marilah kita melakukan tugas panggilan kita yang telah Allah berikan sejak awal penciptaan, sebagai orang percaya untuk mencintai alam. Tuhan Yesus selalu memberkati kita.
(YK /Bersahabat Dengan Alam/GKP Jemaat Effatha, Cakung)

Artikel Terkait

Hati Yang Mengabdi

Gambar, courtesy widjajalagha@gloopic.net
Seorang pebisnis Kristen yang sukses membagikan ceritanya kepada kami di gereja. Ia begitu jujur dan terbuka menyebutkan pergumulannya dalam Iman dan kekayaannya yang melimpah. Ia mengatakan, “Kekayaan membuat takut”.
Ia mengutip perkataan takut, “Sebab lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk dalam kerajaan Allah” (Luk 18:25). Ia mengutip Lukas 16:19-31 tentang seorang kaya dan Lasarus, dan bagaimana dalam kisah itu, justru orang kaya yang masuk ke neraka. Perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh (Luk 12:16-21), juga mengusik pikirannya.
“Akan tetapi”, pebisnis itu kemudian mengatakan, “aku telah belajar dari keputusan Salomo mengenai kekayaan yang berlimpah. Itu semua adalahkesia-siaan” (PKH 21:11). Ia bertekad untuk tidak membiarkan kekayaannya menghalangi pengapdiaannya kepada Allah. Sebaliknya, Ia ingin melayani Allah dengan miliknya dan menolong orang yang berkekurangan.
Selama berabad-abad, Allah telah memberkati sejumlah orang dengan harta benda. Kita membaca tentang Yosafat dalam 2 Tawarikh 17:5, “Oleh sebab itu, Tuhan mengokohkan kerajaan yang ada di bawah kekuasaannya..... sehingga Ia menjadi kaya dan sangat terhormat”. Yosafat tidak menjadi sombong atau menindas orang lain dengan kekayaannya. Sebaliknya, “dengan tabah hati Ia mengikuti jejak Asa, ayahnya; Ia tidak menyimpang dari padanya, dan melakukan apa yang benar di mata Tuhan”.
Tuhan tidak menentang kekayaan karena Dia memberkati sejumlah orang dengan harta, tetapi yang dikecam-Nya adalah usaha memperoleh kekayaan secara tidak etis dan penyalahgunaannya. Allah layak menerima pengabdian dari semua pengikut-Nya.
(Lawrence Darmani /Hati Yang Mengabdi/GKP Jemaat Effatha, Cakung).
Bersyukurlah kepada Allah selalu menolong kita untuk belajar merasa puas dengan apa yang kita miliki. Apa saja yang membuat anda bersyukur ?.

Tuhan menyukai hati yang mengabdi, tanpa melihai dia kaya atau tidak.


Artikel Terkait