Sebuah kolam di depan sebuah gedung. Tidak terlalu luas, berisi ikan-ikan koi. Cukup banyaknya. Ada yang putih, sama sekali putih. Ada yang beleng-belang hitam, merah, dan oranye. Bagus sekali. Memprihatinkan ikan-ikan koi itu sungguh menarik. Yang aneh, tampaknya di antara ikan-ikan itu pengelompokan. Yang putih berkumpul dengan putih. Demikian juga yang belang berkumpul dengan yang belang. Padahal mereka sama-sama dengan ikan koi. Sesekali memang mereka berkumpul bersama-sama, terutama ketika berebut makanan, tetapi akhirnya selalu mengelompok lagi. Dan, rupanya ada dua ekor ikan mas kecil di kolom itu. Sungguh kontras, keduanya kelihatan begitu kecil dan jelek dibanding ikan-ikan koi. Bisa jadi karena itu keduanya cenderung dijauhi. Coba saja perhatikan, tak sekali pun kedua ikan mas itu bisa berkumpul dengan para ikan koi. Setiap kali mereka mendekat, ikan-ikan koi segera menghindar. Hingga kedua ikan mas kecil itu seperti terasing di tengah lingkungannya sendiri. Apa itu hanya insting? Atau jangan-jangan di dunia ikan juga ada kecenderungan primordialistis, atau pengelompokkan berdasarkan kesamaan terbatas? Entahlah.
Yang pasti dalam kehidupan manusia, juga di Indonesia, gaya hidup semacam primordialisme ala ikan koi itu cukup kuat terasa. Di dunia politik, orang dari partai yang satu hanya mau bekerja dan bergaul dengan sesama anggota partai. Kalaupun bergaul/bekerjasama dengan orang partai, pasti karena ada kepentingan yang kebetulan sama. Kalau beda? Ya, bubar lagi! Dalam pergaulan lintas agama pun sami mawon. Orang hanya mau bekerjasama dengan penganut agama tertentu; kalau ada kepentingan bersama, barulah ada kerjasama. Jika tidak? Ya, elu-elu, gue-gue! Tidak jarang malah, perbedaan menjadi alasan untuk bertikai.
Bangsa Israel dalam Mazmur 122 digambarkan terdiri dari beragam suku. Potensi perpecahaan sangat besar. Namun demikian, hanya iman kepada Tuhan yang bersemayam di Bait Allah di Yerusalem lah yang membuat mereka bisa bersatu. Sesungguhnya Tuhan menghendaki kita hidup rukun bersama semua orang sehingga kita terhindar penyakit primordialistis ala ikan koi.
(JNM/ Penyakit Ikan Koi/GKP Jemaat Effatha, Cakung/gloopic.net/Jala)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar