Bayi saya sedang belajar berjalan. Saya harus memegangnya, dan ia pun bergantung pada jari-jari saya karena ia masih belum mantap untuk berdiri sendiri. Ia takut terpeleset, tetapi saya ada di dekatnya untuk menolong dan menjaganya. Ketiga ia berjalan dengan bantuan saya, rasa terima kasih, bahagia, dan aman terpancar dari matanya yang bersinar-sinar. Namun terkadang ia menangis apabila saya tidak mengizinkannya untuk melangkah ke tempat-tempat yang berbahaya. Ia tidak meyadari bahwa saya sedang melindunginya.
Seperti anak saya yang masih bayi itu, kita sering membutuhkan seseorang untuk menjaga, menuntun, dan memegang kita dengan kuat di tengah perjalanan Iman kita. Dan kita memang memilikinya, yaitu Allah Bapa kita. Dia menolong anak-anak-Nya untuk belajar berjalan, menuntun kita langkah demi langkah, memegang tangan kita, dan menjaga kita untuk tetap berjalan di jalur yang benar.
Raja Daud menyadari sekali kebutuhan dirinya akan pemeliharaan Allah yang menjaga hidupnya. Dalam Mazmur 18, ia menggambarkan bagaimana Allah memberikan kita kekuatan dan tuntunan ketika kita kehilangan arah atau dalam kebingungan (Ay 33). Dia meneguhkan kaki kita, seperti kaki rusa yang dapat memanjat bukit tanpa terpeleset (Ay 34). Dan kalau pun kita terpeleset, tangan-Nya menyongsong kita (Ay 36).
Baik yang baru percaya dan sedang belajar melangkah dalam perjalanan Iman,maupun yang sudah lebih dahulu berjalan bersama Allah, kita semua terus membutuhkan tuntunan tangan-Nya yang meneguhkan kita.
(Keila Ochoa/Langkah-langkah Bayi/GKP Jemaat Effatha, Cakung/Gloopic/Jala).
Ya Bapa, peganglah tanganku dan pimpinlah aku di jalan hidup yang benar.
Allah menjaga setiap langkah kita di sepanjang perjalanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar