Jumat, 30 September 2016

Memuliakan Allah

Pagi itu di gereja, kami kedatangan sejumlah pengunjung baru. Kebaktian masih berlangsung dan pengkhotbah baru menyampaikan setengah dari khotbahnya ketika saya melihat salah satu pengunjung itu berjalan keluar. Merasa penasaran dan khawatir, saya pun keluar untuk bercerita dengannya.
"Anda keluar begitu cepat", kata saya sembari mendekatinya. "Apakah ada masalah yang saya bisa bantu?" wanita itu menjawab dengan jujur terang terangan. "Ya", katanya, "masalah saya adalah khotbah itu! saya tidak bisa menerima perkataan pengkhotbah itu". Pengkhobahnya mengatakan bahwa apa pun yang kita capai dalam hidup ini, segala pujian dan syukur hanya patut diberikan kepada Allah. "Paling tidak", wanita itu mengomel, "saya pantas menerima pujian sedikit untuk prestasi saya!".
Saya menjelaskan kepadanya ada yang dimaksudkan dengan pendeta itu. Kita memang layak diakui dan dihargai atas apa yang kita lakukan. Namun demikian, talenta dan bakat kita berasal dari Allah, sehingga Dialah yang patut dimuliakan. Bahkan Yesus, Anak Allah, berkata, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya" (Yoh 5:19). Dia mengatakan kepada pengikut-Nya, "Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuatapa-apa" (15:5).
Kita mengakui bahwa Tuhan adalah satu-satunya penolong kita dalam mencapai segala sesuatu.
(Lawrence Darmani/Memuliakan Allah/GKP Jemaat Effatha, Cakung/gloopic/Jala).

Tuhan, kiranya aku tidak lupa untuk mengakui Engkau atas segala yang Engkau lakukan untukku dan yang Engkau mampukan untuk aku lakukan.
Yesus berkata,
"Barangsiapa yang tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak".

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar