Minggu, 29 Juli 2018

Kesempatan Atau Kesempitan

Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" (Bilangan 13:30)
Dulu setiap pulang kuliah, saya berjalan kaki sejauh 1, 5 km dari jalan raya sampai ke rumah. Tak jarang saya kesal lalu menggerutu dalam hati, mengapa saya tak punya sepeda motor seperti teman-teman saya. Sekarang, saya punya kendaraan pribadi. Lucunya, saya harus meluangkan waktu khusus untuk berolahraga jalan kaki 2, 5 km keliling kompleks. Saya tak pernah menggerutu. Saya melakukannya dengan semangat karena ingin menjaga kesehatan.
Andai dulu saya menganggap berjalan pulang sejauh 1, 5 km sebagai olahraga, tentu saya melakukannya dengan bersemangat. Sayang, waktu itu saya memandang jalan kaki sebagai masalah. Pada akhirnya, cara pandang saya yang salah membuat sikap hati dan tindakan saya ikut salah. 
Cara pandang yang salah akan melahirkan sikap hati dan tindakan yang salah. Sebaliknya, cara pandang yang benar akan melahirkan sikap hati dan tindakan yang benar. Dua belas pengintai menyaksikan hal yang sama, namun hanya Kaleb (ay. 30) dan Yosua (Bil 14:6-9) yang memiliki cara pandang, sikap hati, dan tindakan yang benar. Pada akhirnya, nama mereka masyhur, bahkan sampai hari ini.
(Kesempatan Atau Kesempitan/GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Widjaja Lagha).
Artikel Terkait

Memulihkan Gambar Allah

....Kita semua ...diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar (2 Korintus 3:18)’’
Semasa kecil, teolog Alister McGrath senang bereksperimen dengan bahan kimia di laboratorium sekolahnya. Ia suka menjatuhkan sekeping uang logam yang kusam ke dalam gelas kimia berisi asam nitrat yang telah diencerkan. Ia sering menggunakan uang logam penny Inggris yang kuno bergambar Ratu Victoria. Karena kotoran yang menumpuk pada uang logam itu, gambar sang ratu menjadi tidak dapat terlihat dengan jelas. Namun, asam membersihkan kotoran pada logam itu dan gambar sang ratu pun dapat terlihat kembali dalam keagungannya yang cemerlang.
Kita tahu pasti bahwa kita ini diciptakan seturut dengan gambar Allah (Kejadian 1:26), meskipun gambar itu telah kotor karena dosa-dosa kita. Namun demikian, kita tetap menyandang gambar Allah.
Begitu kita mengundang Yesus masuk ke dalam kehidupan kita sebagai Sang Juruselamat, Dia bekerja untuk membenahi gambar asli kita. Dia mengubah kita agar menjadi serupa dengan-Nya (2 Korintus 3:18). Proses ini digambarkan dengan menanggalkan sebagian perilaku yang ada dan mengenakan perilaku yang lain. Sebagai contoh, ada tertulis, “Buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah, dan kata-kata kotor” (Kolose 3:8) dan “kenakanlah kasih” (ayat 14).
Jika jiwa kita yang telah kusam karena dosa tidak dibasuh oleh pengampunan Yesus, gambar Allah akan tampak kabur di dalam kehidupan kita. Namun bila kita memercayai pengurbanan Yesus di kayu salib, maka kita pun diampuni dan pemulihan itu dimulai.
(Memulihkan Gambar Allah/GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Widjaja Lagha).
Artikel Terkait

Allah Kemuliaanku

....Engkau, Tuhan, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku (Mazmur 3:4)
Apakah Allah adalah kemuliaan Anda? (Mazmur 3:4). Kata kemuliaan merupakan terjemahan dari kata Ibrani yang berarti "bobot" atau "makna".
Sebagian orang mengukur berharga tidaknya mereka melalui kecantikan, kecerdasan, uang, kekuasaan, atau gengsi. Namun, Daud yang menulisMazmur 3menemukan rasa aman dan berharga di dalam Allah. Ia mengatakan bahwa banyak orang melawannya. Ia mendengar suara kejam mereka dan sempat tergoda untuk mempercayai perkataan mereka, menyerah pada rasa takut dan keputusasaan. Namun, ia menghibur dan menguatkan hatinya dengan berkata, "Engkau, Tuhan, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku" (ayat 4).
Kesadaran itu sungguh menghasilkan perubahan! Daud memiliki Allah, sedangkan para musuhnya tidak. Dengan demikian ia dapat menegakkan kepala dengan penuh keyakinan.
Ayat-ayat seperti Mazmur 3:4dapat membawa kedamaian dalam hati Anda, bahkan ketika Anda beradadi tengah badai masalah. Allah adalah perisai dan pembebas Anda. Dia akan menangani penderitaan Anda tepat pada waktunya.
Sementara itu, ungkapkan kepada Allah segala permasalahan Anda. Biarkan Dia menjadi kemuliaan Anda. Anda tidak perlu membela diri. Mintalah Dia menjadi perisai Anda, untuk melindungi hati Anda dengan kasih dan perhatian-Nya yang senantiasa menyertai. Kemudian, seperti halnya Daud, Anda dapat berbaring dengan damai dan tidur nyenyak walau puluhan ribu orang melawan Anda (ayat 6,7).
(Allah Kemuliaanku/Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Widjaja Lagha).
Artikel Terkait

“Hikmat Firman Allah”

 ....Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? ... Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?(1Korintus 1:20)
Kita menggali Kitab Suci. Kitab Suci diilhamkan oleh Allah dan mengajarkan kepada kita jalan menuju hidup yang berkelimpahan di dunia ini serta hidup kekal di dunia yang akan datang. Memang benar, Kitab Suci merupakan sumber hikmat yang melebihi hikmat para filsuf yang paling bijaksana sekalipun (1 Korintus 1:20). Akan tetapi, fakta ini jarang diakui dalam kebudayaan kita. 
Maka saya pun gembira pada saat membaca sebuah artikel yang ditulis oleh kolumnis The New York Times, David Brooks, yang memuji hikmat alkitabiah. Ia memuji Martin Luther King Jr. karena wawasan tentang sifat manusia diperolehnya dari Kitab Suci. Ia merasa bahwa King "memiliki pandangan yang lebih akurat tentang realitas politik dibandingkan sekutu-sekutu liberalnya yang lebih sekuler karena ia dapat memanfaatkan hikmat alkitabiah mengenai sifat manusia. Agama tidak hanya membuat para pemimpin yang merumuskan hak asasi manusia lebih kuat—agama membuat mereka lebih pintar". Dan Brooks berkata lebih lanjut, "Hikmat alkitabiah lebih dalam dan lebih akurat daripada hikmat yang ditawarkan ilmu-ilmu sosial sekuler."
Apakah kita memanfaatkan sumber hikmat itu di dalam kehidupan kita? Kita membutuhkan hikmat Kitab Suci untuk mengatasi masalah-masalah pribadi kita dan persoalan politik. Jika kita mempelajari dan menaati Alkitab, kita akan dapat bersaksi dengan rendah hati bersama sang pemazmur, "Aku lebih berakal budi daripada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan" (Mazmur 119:99).
Peganglah hal ini : bahwa Firman Allah itu hidup dan berkuasa. Bacalah dengan setia. Pelajarilah dengan hati terbuka. Alamilah hubungan yang hidup dengan Firman itu. Izinkan Tuhan membentuk ulang sisi-sisi hidup kita sesuai dengan firman-Nya. Mengubahkan hidup kita. Bahkan menjadi benar-benar baru, seperti yang Dia mau.
(“Hikmat Firman AllahHIKMAT” Amsal 8:12-2/GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Widjaja Lagha).
Artikel Terkait

Mukjizat Utama

Lima tahun-waktu yang panjang dan berat bagi ibu dalam berjuang melawan kanker. Setelah beberapa kali mendapatkan mukjizat kesembuhan, kini maut tidak dapat dielakkan lagi. Ibu menutup usia pada 21 September 2013. Pada hari itu, saya menyadari bahwa mukjizat terbesar bukanlah mukjizat kesembuhan, melainkan karena ibu telah percaya kepada Tuhan dan berpegang teguh pada iman sampai akhir hayatnya. Dan kini, sekalipun kematian telah menjemputnya, saya yakin ibu telah berbahagia bersama Kristus di surga. 
Mengharapkan mukjizat kesembuhan dari Tuhan tentulah tidak salah. Namun, jika kita hanya mengharapkan kesembuhan, kekuasaan, dan kekayaan dari Tuhan, menurut rasul Paulus, kita adalah orang yang paling malang di dunia ini. Mengapa? Semua itu hanya bersifat sementara. Hadiah utama yang diberikan Kristus bagi mereka yang percaya kepada-Nya adalah kebangkitan dari kematian. Ya, karena Kristus telah bangkit sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.
Tidak semua orang Kristen mendapatkan mukjizat kesembuhan, kelimpahan materi, atau kejayaan. Namun, semua orang yang percaya pada Kristus pasti akan dibangkitkan ketika Dia datang untuk kedua kalinya. Itulah pengharapan dan mukjizat yang utama bagi kita. Karena itu, janganlah berkecil hati jika di dalam dunia ini kita masih menghadapi berbagai macam kesulitan atau sakit-penyakit. Tetaplah berpegang teguh pada pengharapan iman kita. Hidup yang kekal dan mahkota kemuliaan tersedia bagi mereka yang percaya.
(Mukjizat Utama /GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Widjaja Lagha).
Artikel Terkait

Bukan Memegahkan Diri

: ...."Atas orang itu aku hendak bermegah, tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan kelemahanku. (2 Korintus 12:5)
Sebagai orang beriman, kita memiliki beberapa tugas khusus, salah satunya adalah bersaksi. Bersaksi dimaksudkan untuk menyampaikan pengalaman hidup kita bersama dengan Tuhan, baik yang senang maupun yang susah, dengan mengedepankan kebaikan Tuhan, bukan membanggakan kehebatan kita. Tujuannya bukan agar orang memuji kita, melainkan agar mereka memuliakan Tuhan. Masalahnya, tidak jarang yang terjadi justru sebaliknya.
Sewaktu Rasul Paulus bersaksi tentang kehidupan imannya, ia cukup berhati-hati agar tidak terjebak ke dalam kecenderungan manusia untuk menyombongkan diri tersebut (ay. 11-13). Walaupun telah mengalami pengalaman rohani yang dahsyat (ay. 1), Paulus tidak ingin membanggakannya. Dalam menceritakan penglihatannya, ia justru memperhalus pernyataannya dengan kalimat "ada seorang Kristen" dan bukan terang-terangan berkata "sewaktu saya diangkat ke surga". Disebutkan juga "entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu", dan selanjutnya ditegaskan hanya "Allah yang mengetahuinya" (ay. 2, 3). Paulus menyadari, pengalaman itu bukan karena kehebatan dirinya, melainkan karena kemurahan Tuhan atasnya sekalipun dirinya penuh kelemahan.
Sebuah kerendahan hati yang patut diteladani, bukan? Ia seorang rasul yang istimewa, namun hal itu tidak menjadikannya membusungkan dada. Ia tidak segan untuk mengakui kelemahannya, dan menonjolkan kebaikan Tuhan. Begitu juga dengan kesaksian kita. Kiranya kebaikan Tuhanlah yang menjadi pusatnya. 
(Bukan Memegahkan Diri /GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Widjaja Lagha).
Artikel Terkait

Selasa, 24 Juli 2018

Kristus Rumah Kita

....Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu (Yohanes 15:4)
Dalam bahasa Inggris ada kata house dan home. Namun, kita hanya mengenal kata "rumah" untuk menerjemahkan keduanya. House ialah bangunan fisik tempat tinggal, adapun home mengacu pada hubungan yang penuh makna antara manusia dan tempat huniannya. Home mewakili tempat yang paling membuat kita kerasan di dunia ini.
Itulah kira-kira yang dimaksudkan Yesus tatkala Dia menghendaki agar kita tinggal di dalam Dia. Dalam bahasa Yunani, kata tinggal itu memiliki konteks yang luas. Berkaitan dengan tempat, tinggal berarti menetap; berdiam; tidak meninggalkan; senantiasa hadir. Berkaitan dengan waktu, tinggal berarti berlangsung terus-menerus; bertahan; berjaga-jaga; tidak binasa; langgeng. Berkaitan dengan keadaan, tinggal berarti tetap seperti semula; tidak berubah. Selain itu, tinggal juga berarti menantikan seseorang. Dengan memadukan berbagai pengertian tersebut, tinggal di dalam Kristus dapat dimaknai sebagai "menjadikan Kristus sebagai rumah kita selama-lamanya".
Lalu, bagaimana kita tinggal di dalam Kristus? Kita dapat menemukan jawabannya melalui makna rumah (home). Rumah ialah tempat hati kita tertuju, tempat kita pulang tatkala rindu. Di rumah, kita rehat untuk mendapatkan pemulihan dan penyegaran. Di rumah, kita merasa nyaman dan leluasa menjadi diri sendiri. Di rumah, kita menemukan keamanan dan ketenteraman. Di rumah pula, kita bersekutu dengan orang-orang yang kita kasihi dan melakukan hal-hal yang kita senangi. Singkatnya, rumah menjadi pusat aktivitas hidup kita. Nah, apakah kita menjadikan Kristus sebagai "rumah" kita?
DI DALAM KRISTUS KITA TINGGAL SELAMA-LAMANYA:BERAKAR, BERTUMBUH, DAN BERBUAH BAGI KEMULIAAN BAPA.
(Kristus Rumah Kita/GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Widjaja Lagha)
Artikel Terkait