Minggu, 23 Oktober 2016

Lonceng

Apakah anda memiliki pengalaman yang sama denga saya berkaitan denga kata “Lonceng” ?
Setiap mendengar lonceng berbunyi, maka imajinasi saya menerawang pada pengalaman di masa kecil, karena saya seringkali terlambat tiba di sekolah. Begitu becak berhenti di depan gerbang sekolah, saya harus berlari karena lonceng sekolah sudah berbunyi.
Lain lagi pengalaman Junaed. Suara lonceng selalu mengingatkan ia pada pengalamannya ketika masih mendekam di dalam penjara. Bunyi lonceng yang rutin pada jam-jam tertentu, membuat ia teringat pada saat ia harus antri untuk mendapatkan makanan, jam untuk bercocok tanam di lingkungan penjara, jam untuk keluar halaman penjara sambil tangan dan kakinya terbelenggu, jam untuk membersihkan WC, bahkan jam untuk tidur di malam hari dan bangun di pagi hari.
Akan tetapi bagi sebagian orang lonceng pun memberikan suasana yang indah, apalagi kalau suaranya bagus dan menggema ke seluruh kota. Dalam suasana natal, maka seringkali lonceng dibunyikan bertalu-talu sehingga suasana menjadi ceria dan khidmat.
Billy Graham mempunyai pengalaman berkaitan dengan suara lonceng. Di desa di mana ia tinggal dahulu. Lonceng dipakai untuk memberi tanda bahwa ada orang yang meninggal dunia pada hari itu. Namun yang lebih unik lagi, ternyata jumlah dentangan lonceng yang dibunyikan menunjukkan berapa usia orang yang meninggal. Biasanya jika bunyi lonceng bertalu-talu dan lama sekali, maka itu menandakan bahwa orang yang meninggal  usianya sudah cukup tua. Namun suatu ketika lonceng berbunyi hanya beberapa kali saja, Billy Graham yang masih remaja terkejut bahwa ternyata itu bunyi lonceng kematian. Ia pun tersadar bahwa maut dapat merenggut orang kapan saja. Ia tidak pandang usia.
Tidak ada seorang pun dari kita mengetahui kapan kita akan meninggalkan dunia ini. Akan tetapi Ingatlah bahwa setiap kali kita mendengar suara lonceng berdentang, maka ada suatu pertanyaan yang meggema dalam hati kita, “Sudah siapkah kita menghadap sang pencipta apabila Ia memanggil kita ?”.
(PH/Lonceng/GKP Jemaat Effatha, Cakung/gloopic.net/Jala). 

Artikel Terkait

Berdoa Bagi Bangsa

Tak seorang pun dari kita tidak bisa berdoa, bukan? Namun banyak orang kristen yang tidak berdoa. Alasannya klise: capai, sibuk dan tidak ada waktu? Benarkah? Bukankah kita diberi waktu selama 24 jam dalam sehari? Adakah kesemuanya habis untuk aktivitas kita? Jika kita bisa menyediakan waktu untuk bersantai, rekreasi, shopping ke mall, menyalurkan hobi, kongkow-kongkow dengan teman, masakan kita tidak punya waktu untuk berdoa? Ternyata jika ada masalah berat melanda kita langsung “tancap gas” berdoa terus menerus. Namun setelah masalah selesai kita kembali ke asal : malas berdoa. Tuhan Yesus mengingatkan, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan : roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41).
Berdoa adalah tugas paling dasar bagi orang Kristen. Orang Kristen yang tekun berdoa adalah orang Kristen yang normal. Seringkali kita hanya berdoa untuk kepentingan dan kebutuhan diri sendiri dan sedikit orang mau berdoa syafaat bagi orang lain : teman, gereja, bangsa atau pun pelayanan Injil. Nehemia meski sudah berhasil di negeri orang, tidak pernah melupakan bangsanya. Ketika mendengar bahwa bangsanya sedang terpuruk ia pun berdoa dan juga berpuasa untuk bangsanya. Dengan kerendahan hati ia bersimpuh kepada Tuhan : memohon pengampunan dan belas kasihan-Nya, “berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-MU siang dan malam bagi orang Israel, hamba-hamba-Mu itu, dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa.” (Nehemia 1:6).
Yang pertama kali Nehemia mohonkan kepada Tuhan adalah pengampunan atas bangsanya, sebab pengampunan adalah awal pemulihan. Ia sangat percaya akan kekuatan doa yang pasti dapat mengubah segala sesuatu! Tuhan berkata, “dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-KU, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta mumulihkan negeri mereka.”(2 Tawarikh 7:14).
Seperti halnya Nehemia, bagaimanakah dengan kita saat ini? Apakah kita juga mimiliki kepedulian dengan keadaan bangsa kita dan apakah kita sudah melakukan upaya memberi yang terbaik bagi bangsa kita sebagai pribadi dan sebagai persekutuan dalam jemaat, terlebih dalam mamasuki usia Republik Indonesia yang ke 71 Tahun. Marilah kita mengadakan perubahan yang baik mulai dari sendiri, kemudian ditularkan dalam kehidupan berkeluarga, menyebar ke gereja dan berdampak bagi bangsa. Jika Nehemia saja yang berada di luar negeri berjuang untuk membangun kesejahteraan/kemajuan negerinya, terlebih kita yang berada tinggal bersama di tanah air tercinta.
(YK/ Berdoa Bagi Bangsa/Jemaat Effatha, Cakung/gloopic.net/Jala).

Artikel Terkait

Dipercaya Tuhan dan Sesama : Modal Sukses

Menjadi orang kepercayaan adalah modal sukses bagi setiap orang, suatu prestasi yang tidak bisa dianggap sepele. Ketiga kita dipercaya oleh pimpinan di tempat bekerja, dipercaya oleh dosen menjadi asistennya di kampus, dipercaya oleh masyarakat menjadi wakilnya di lembaga pemerintah adalah sesuatu yang sangat membanggakan. Terlebih yang mempercayakan tugas dan tanggung jawab itu adalah Tuhan, itu suatu anugerah yang tak ternilai harganya; menjadi orang kepercayaan bukanlah hal yang mudah.
Rasul Paulus merespons kepercayaan dari Tuhan dengan segenap hati dan penuh sukacita:  “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya yaitu jemaat. Dialah yang kami berikan, apabila tiap-tiap orang kami nasehati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam sagala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan Kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku,” (1 Kolose 1:24, 28,29). Ia sadar bahwa memperoleh kepercayaan dari Tuhan bukan berarti perjalanan hidup ini akan mudah, mulus dan tanpa rintangan. Adakalanya hidup ini akan menjadi mudah, mulus dan tanpa rintangan, Adakalanya kita harus diperhadapkan pada ujian dan tangan yang berat. Tapi Rasul Paulus tetap kuat dan bersukacita; mengapa? Karena jika Tuhan mempercayai kita, kuasa-Nya akan senantiasa menyertai kita, dan melalui kita Ia akan mengerjakan perkara-perkara yang besar, heran, ajaib dan penuh mujizat. Tuhan berkata kepada Paulus,“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” (2 Korintus 12:9).
Ingat! Tidak semua orang beroleh kesempatan untuk dipercaya oleh Tuhan, karena itu jika saat ini kita dipercaya Tuhan, jangan pernah sia-siakan.
(YK/ Dipercaya Tuhan dan Sesama : Modal Sukses/GKP Jemaat Effatha, Cakung/gloopic.net/Jala).

Artikel Terkait

Yesus Sahabat Sejati

“Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Yohanes 15:13
Dalam menjalani kehidupan di  dunia ini tak mungkin kita sendirian, siapa pun kita pasti memerlukan orang lain sebagai teman atau sahabat. Namun tidaklah mudah menemukan teman yang baik, apalagi teman yang setia di segala keadaan. Teman datang dan pergi adalah hal yang biasa. Teman dalam suka banyak, tetapi bagaimana dengan teman dalam duka atau ketika sedang susah?. Terkadang “Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara,” (Amsal 18:24).
Sebagai orang percaya kita patut bersyukur karena kita mempunyai Tuhan Yesusyang bukan saja Juru Selamat hidup kita, tapi juga menjadi sahabat sejati kita. Bahkan Tuhan sendiri lah yang memilih kita menjadi sahabat-Nya. Tuhan Yesus berkata , “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat  oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan  kamu yang yang milih Aku, tetapi  Akulah yang memilih kamu.” (Yohanes 15:15-16a). Tidak hanya iyu, Ia pin rela mengorbankan nyawa-Nya bagi kita. Kalau Tuhan rela mengorbankan nyawa-Nya, masakan Dia akan tinggal diam ketika kita sedang dalam permasalahan yang berat?. Teman, sahabat dan orang-orang kita kasihi di dunia ini sewaktu-waktu bisa saja pergi meninggalkan kita. Perhatikan apa yang dikatakan Tuhan Yesus ini, “Aku sekali-kali tidak ada membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”(Ibrani 13:5). Inilah yang seharusnya menjadi kekuatan dan penghiburan bagi kita setiap hari.
Tuhan berjanji bahwa Dia tidak akan membiarkan dan meninggalkan kita bergumul sendirian. Dan janji Tuhan itu ya dan amin!! Karena itu jangan merasa sendirian, ada Tuhan Yesus di samping kita. Kalau kita percaya Dia adalah Juru Selamat dan Sahabat, maka sebesar apa pun persoalan yang kita alami, seberat apa pun pergumulan yang ada, kita akan sanggup berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13).
(YK/Yesus Sahabat Sejati/GKP Jemaat Effatha, Cakung/gloopic.net/Jala).

Mari kita jalani hidup ini dengan penuh iman karena kita memiliki Sahabat Sejati yang senantiasa menopang

Artikel Terkait

Pohon Ara Yang Tidak Berbuah

“Seorang yang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan dia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya,” (Lukas 13:6).
Membaca perikop ini kita akan teringat sebuah nyanyian nabi Yesaya tentang kebun anggur. Tertulis, “Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur. Ia mencangkulnya dan membuang batu-barunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia medirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam.” (Yesaya 5:1b-2). Ini adalah ratapan nabi Yesaya mengenai kegagalan bangsa Israel yang digambarkan seperti pohon anggur yang gagal menghasilkan buah anggur yang baik, justru yang dihasilkan adalah buah yang asam. Ratapan inilah yang mengilhami Yesus dalam mengisahkan perumpamaan pada perikop ini (Lukas 13:6-9).
Secara geografis daerah Palestina dikenal sebagai wilayah pegunungan yang sangat subur, sehingga tanaman buah-buahan banyak tumbuh di sana : zaitu, anggur, delima dan juga pohon ara. Karena kondisi tanahnya yang sangat subur, pohon ara pun dapat bertumbuh subur di mana-mana. Tapi pohon ara dalam perikop ini sungguh aneh dan lain dari pada yang lain, karena pohon ara ini ditanam secara khusus di dalam kebun anggur. Artinya pohon ara ini beroleh perlakuan yang sangat istimewa dari pemilik kebun anggur. Tetapi kenyataannya pohon ara tersebut tetap saja tidak menghasilkan buah. Dikatakan, “Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya.” (Lukas 13:7a). Pada tahun pertama masih bisa dimaklumi, mungkin masih terlalu muda untuk berbuah. Namu sampai pada tahun ketiga pohon ara itu tetap saja tidak menghasilkan buah. Pohan ara itu telah mengecewakan! Lalu pemilik kebun itu berkata dengan tegas, “tebanglah pohon ini untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma.” (Lukas 13:7b).
Ini adalah gambaran dari kehidupan kita orang percaya; kita yang sesungguhnya berada di luar anugerah-Nya oleh kasih-Nya kita secara khusus dipilih, dipanggil menjadi umat-Nya, dan diangkat sebagai anak-anak Allah dan diselamatkan. Suatu anugerah yang luar biasa! Sebagai umat-Nya, marilah kita secara aktif berbuat, menghasilkan sesuatu yang berguna, serta tekun berusaha melalui setiap panggilan pelayanan yang diberikan, sehingga bisa menjadi berkat dimana pun kita berada.
(YK/ Pohon Ara Yang Tidak Berbuah/GKP Jemaat Effatha, Cakung/gloopic.net/Jala).

Artikel Terkait

Perjamuan Tuhan

“Jadi baarangsiapa dengan cara tidak layak makan roti atau minuman cawan Tuhan, ia akan berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan, karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu  ia makan roti dan minum dari cawan itu.”
Matius 26 menceritakan salah satu peristiwa perjamuan malam yang paling terkenal dalam sejarah umat manusia yaitu Perjamuan Terakhir. Yesus berkata, “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” (Matius 26:26). “Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata : “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian , yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” (Matius 26:27-28).
Yesus saat itu berbicara secara simbolis. Yang Dia katakan bukanlah arti sesungguhnya secara harafiah. Yesus pernah mengatakan bahwa Dia adalah roti hidup, namun Dia juga mengatakan bahwa Dia adalah Pintu? Jadi apakah kita kemudian memperdebatkan apakah Yesus sebenarnya  adalah Roti atau sebuah Pintu? Tentu saja tidak. Demikian halnya dengan pernyataan Yesus saat Perjamuan Terakhir, jangan kemudian memperdebatkan bahwa roti dan isi cangkir tersebut sebenarnya adalah tubuh dan darah kristus yang sesungguhnya secara harafiah. Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa terjadi perubahan secara spiritual yang mengubah isi cangkir menjadi darah Yesus dan roti menjadi tubuh-Nya.
Oleh karena itu, saat kita mengambil bagian dalam sebuah Perjamuan Kudus, janganlah terlalu memusingkan seperti apa wujud yang ditampilkan sebagai  tubuh dan darah Kristus. Namun di sisi lain, jangan mengurangi makna Perjamuan Kudus dengan berpikir bahwa semua hal itu tidak ada artinya.
Alkitab memperingatkan kita akibat dari mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus tanpa bersungguh-sungguh menyadari apa makna sesungguhnya  dari Perjamuan tersebut (1 Korintus 11:23-30). Roti dan anggur itu sendiri  bukanlah elemen suci, namun keduanya mewakil sesuatu yang sangat suci. Jadi, dengan rasa hormat kita dapat mengikuti Perjamuan Kudus di Gereja dan menyadari bahwa hal tersebut adalah simbol dari apa yang telah Yesus Kristus lakukan untuk kita di kayu salib.
(YK/Yesus Sahabat Sejati/GKP Jemaat Effatha, Cakung/gloopic.net/Jala).

Artikel Terkait

Roh Yang Memimpin Pada Ketaatan

Sebagai manusia kita memiliki kecenderungan untuk hidup menuruti keinginan daging dari pada tunduk kepada Tuhan dan dihidup dipimpin oleh Roh. Ada tertulis : “... roh memang penurut, tetapi daging lemah.”(Matius 26 :41)
Memang tidak mudah menjauh dari dosa dan melepaskan diri dari ikatan dosa yang selama ini membelenggu hidup . Tanpa adanya pertobatan sejati kita akan selalu ada dalam jerat iblis. Sia-sia saja membanggakan diri diri karena status kita sebagai orang kristen atau anak Tuhan padahal cara hidup kita sama dengan orang-orang dunia yang belum diselamatkan, sebab firman-Nya dengan tegas mengatakan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah : apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”  (Roma 12:2).
Kita harus memiliki kualitas hidup yang berbeda sebagao ciri khas yang membedakan kita dengan orang dunia. Kita harus bisa menjadi saksi Kristus, hidup seperti surat terbuka yang bisa dibaca oleh semua orang, sebab dunia membutuhkan bukti. Tuhan menuntut kita untuk menghasilkan buah-buah Roh (Galatia 5:22-23). Dan kita hanya bisa berbuah jika kita tinggal di dalam Tuhan dan Dia di dalam kita (Yohanes 15:5). Tinggal dalam Tuhan artinya selalu dekat dengan-Nya serta taat melakukan Kehendah-Nya, sehingga Tuhan akan bekerja dalam hidup kita melalui karya Roh Kudus yang akan memimpin kita pada ketaatan : “....... Roh kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran,” (Yohanes 16:3a).
Kadang kita ingin melepaskan diri dari perbuatan daging yang menyesatkan, tapi iblis yang penuh tipu muslihat tidak menyerah begitu saja. Iblis selalu berusaha melemahkan iman anak-anak Tuhan sehingga banyak dari kita yang masih saja jatuh dalam dosa yang sama dengan melakukan penyembahan berhala, hidup dalam perzinahan, pesta pora dan hawa nafsu, yang tanpa kita sadari telah mengotori Bait Roh Kudus yang ada di dalam kita (1Korintus 6:19-20). Untuk hidup dalam pimpinan Roh Kudus kita memerlukan Tuhan untuk mengubah hati kita
(YK/Roh Yang Memimpin Pada Ketaatan//GKP Jemaat Effatha, Cakung/gloopic.net/Jala).

“Kamu akan Kuberikan hati yang baru dan roh yang baru di dalam hatimu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.”

Artikel Terkait

Iman Yang Teruji

...Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu -- yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api (1Petrus 1:7)
Ibu Merry berusia 72 tahun. Ia menderita kanker lever stadium akut. Dokter sudah memvonis bahwa hidupnya hanya tinggal hitungan bulan. Perutnya membesar, dan kerap kali ia harus menanggung kesakitan di sekujur tubuh. Suatu hari, saya dan istri menengoknya di rumah sakit. Kami berbincang-bincang. Wajahnya yang kurus pucat tidak melunturkan semangat dan senyumnya. Saya membacakan firman Tuhan. Sebelum berdoa, saya mengajaknya bernyanyi, sebab ia senang menyanyi. "Tantemau nyanyi lagu apa?" tanya saya. "Lagu Berserah kepada Yesus," jawabnya. Kami pun bernyanyi bersama. Sungguh luar biasa. Seseorang yang seakan-akan sudah dekat dengan kematian dan di tengah deraan sakit yang hebat, melantunkan pujian: "Aku berserah, aku berserah, kepada-Mu Juru Selamat, aku berserah." Inilah iman yang sejati. Sangatlah biasa bila dalam keadaaan berkelimpahan, hidup senang, dan sehat walafiat, seseorang memuji-muji Tuhan. Akan tetapi, sungguh istimewa bila di tengah kesulitan hidup, dalam pencobaan yang berat, seseorang masih bisa memuji dan mengagungkan nama Tuhan.
Surat Petrus yang pertama ditujukan kepada umat kristiani yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil, dan Bitinia (ayat 1). Mereka tengah mengalami tekanan dan penganiayaan hebat akibat iman mereka. Namun, Petrus mengingatkan mereka untuk tetap gembira walau harus menanggung semua kesulitan itu (ayat 6). Nasihat ini juga berlaku bagi kita yang mengalami tekanan hidup. Tetaplah bergembira. Pandanglah pencobaan sebagai sarana untuk "membuktikan" kemurnian iman kita.
(Iman Yang Teruji/GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Jala).
IMAN, SEPERTI JUGA CINTA,
TERUJI PADA SAAT YANG SULIT

Artikel Terkait

Mengapa Mahkota Duri

Sebuah Refleksi Memperingati Sengsara Kristus.
Oleh : Pdt. Alfred Anggui
Raja dengan mahkota yang berhiaskan emas dan permata, tentu saja merupakan dua hal yang memang berpadanan. Namun demikian, bagaimana bila seorang Raja justru “dianugerahi” sebuah mahkota duri? Tidakkah ini merupakan dua hal hal yang justru saling bertolak belakang? Jika mahkota yang berhiaskan emas dan permata mencerminkan potret kebesaran seorang raja, maka pesan apa yang mungkin terungkap dari sebuah mahkota duri? Secara sepintas, pandangan mata manusia yang pada umumnya memang sudah dijejali dengan keserakahan dan keangkuhan, tentu saja tidak akan pernah bisa melihat keindahan dan keluhuran makna sebuah mahkota duri, melainkan sebaliknya : hanya sebuah potret dan makna tentang deretan kepedihan dan kehinaan yang amat dalam, serta ketidakberdayaan belaka! Namun jika demikian, mengapa Yesus secara sadar justru kemudian memilih untuk menerima dengan penuh komitmen, mahkota duri yang “dikenakan” padaNya? Pesan apa yang sebenarnya Yesus ingin perlihatkan melalui mahkota duri yang dikenakanNya? “Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja orang Yahudi!" (Mat. 27 : 29).
Pilihan Hidup untuk Setia
Jalan kehidupan yang dipilih oleh Yesus memang amat sulit untuk dimengerti oleh logika manusia, utamanya logika yang sudah terlalu banyak dirasuki oleh keserakahan dan pementingan diri sendiri. Tak heran, sekali waktu, sesaat setelah selesai berkhotbah tentang perkataan Yesus : “lebih baik memberi daripada menerima”, seorang bapak kemudian lantas datang bertanya, “Pak pendeta, apakah pesan itu masih realistis?”. Tentu saja pertanyaan ini sangat aneh dan ironis, sebab nampak jelas betapa perkataan Yesus justru menjadi asing dan aneh di telinga murid-murid Tuhan sendiri! Tak jauh berbeda dengan pandangan Petrus yang sulit menerima kenyataan tentang penderitaan Yesus! Ketika Yesus memberitahukan murid-muridNya tentang jalan sengsara yang harus Ia tempuh, Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." (Mat. 16 : 22). Jalan mahkota duri nampak sulit diterima, sebab dipandang tak sesuai dengan jatidiri seorang Mesias Sang Juruselamat.
Yang kemudian menarik diperhatikan, ialah tanggapan Yesus kemudian terhadap apa yang dikemukakan oleh Petrus. Kepada Petrus, Yesus mengatakan: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." Nampak jelas terlihat, apa makna mahkota duri bagi Yesus sendiri! Bagi Yesus, mahkota duri adalah konsekuensi dari sebuah pilihan hidup untuk setia kepada Bapa! Tak ada tempat untuk mendengarkan kata hati sendiri! Sepahit apapun cawan yang harus Ia minum, pada akhirnya dengan tegar Ia mengatakan, "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!"
Yesus sendiri sesungguhnya bukan tanpa pilihan! Ia bisa saja lari dan berpaling dari rencana sang Bapa. Ketika Petrus melakukan perlawanan saat Yesus hendak ditangkap, yakni dengan memotong telinga Malkhus, dengan jelas Yesus mengatakan, “...kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? (Mat. 26 : 53)
Mahkota duri memperlihatkan sebuah pesan tentang kesetiaan pada panggilan! Sebagai umat milik Tuhan, tidak ada hal lain yang harus didahulukan, selain setia dan taat sepenuhnya kepada Sang Bapa! Seperti kata rasul Paulus kepada jemaat di Galatia : adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus” (Gal. 1 : 10). Setiap orang mungkin saja boleh kehilangan berbagai hal, tetapi jangan sampai kehilangan kesetiaannya kepada Tuhan! Tak heran, jika Yesus kemudian pernah berujar, “Setiap orang yang siap membajak, tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk.9 : 62). Karena itu, di saat banyak orang menganggap begitu rendah dan karenanya lantas begitu mudah menggadaikan, bahkan meninggalkan panggilan dan jatidirinya sebagai milik Kristus, hanya karena sebuah persoalan yang mungkin begitu sederhana, mahkota duri kiranya bisa mengingatkan kembali makna kesetiaan pada panggilan Tuhan!
Perlawanan Terhadap Keangkuhan
Maslow, pernah mengemukakan sebuah teori tentang tingkatan kebutuhan hidup manusia. Menurutnya, puncak tingkatan kebutuhan manusia adalah terkait dengan aktualisasi diri atau kebutuhan akan pengakuan diri. Apa artinya? Keangkuhan atau sebuah kebutuhan untuk mendapat pengakuan atas status atau identitas diri seseorang ternyata memang seringkali menjadi bagian kehidupan seseorang. Karenanya, meski sudah beroleh kedudukan yang tinggi, ataupun juga kekayaan yang melimpah, namun bila dirinya belum dikenal dan diakui oleh orang sekitar atau sekampung, nampak bahwa itu belum cukup. Murid-murid Yesus sendiri pun tak luput dari hal seperti ini. Mereka acap kali berdebat, tentang siapa yang terbesar di antara para murid? Satu dari tiga pencobaan yang dialami oleh Yesus di padang gurun, sesungguhnya juga merupakan godaan yang terkait dengan kebutuhan akan pengakuan diri! Permintaan untuk menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah, tempat banyak orang berkumpul, merupakan godaan untuk beroleh pengakuan diri, yakni dengan melakukan mujizat di depan banyak orang! Yesus jelas menolak! Bahkan di saat para ahli Taurat dan orang Farisi meminta sebuah tanda dariNya agar mereka bisa percaya, Yesus bahkan mengatakan, tidak ada tanda yang akan diberikan selain tanda Nabi Yunus, yakni tanda yang jelas menunjuk pada peristiwa kematian Yesus Kristus (Mat. 12 : 38-40).
Terkait dengan hal tersebut, mahkota duri sesungguhnya hendak memberikan sebuah pesan penolakan terhadap keangkuhan. Padanan sebuah mahkota bukanlah emas dan permata, melainkan duri yang tajam dan menyakitkan. Tak heran, semasa hidupNya Yesus bahkan melakukan sebuah tindakan yang tak pernah dilakukan seorang tuan, guru atau majikan pada masa itu, yakni membasuh kaki murid-muridNya. Saat mengambil kain lenan dan mengikatkannya pada pinggangNya, Yesus tanpa ragu mengambil peran seorang hamba. Ia membasuh kaki murid-muridNya, lalu menitipkan sebuah pesan sarat makna bagi mereka: “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu” (Yoh.13 : 14).
Makna semuanya ini jelas : mahkota duri merupakan sebuah tawaran pola hidup bagi setiap murid Tuhan. Keindahan seseorang di hadapan Tuhan sama sekali tidak bergantung pada tinggi rendahnya jabatan yang dimiliki,  mahal tidaknya aksesoris yang dikenakan atau bahkan banyak tidaknya kerbau yang dipotong dalam sebuah acara pemakaman. Sebaliknya, keindahan manusia di mata Tuhan, justru terkait erat dengan kesediaan memberi diri sepenuhnya bagi mereka yang membutuhkan pertolongan! Karenanya, meski berada dalam kelemahan, Rasul Paulus dengan yakin bisa mengatakan, “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik,.... Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, …(2 Tim. 4 : 6-8).
Pekan-pekan peringatan sengsara Kristus yang akan dijalani ini sesungguhnya merupakan saat yang tepat untuk kembali merenungkan jatidiri sebagai murid Kristus. Seberapa jauh hidup kita bersama sudah memberi makna bagi yang lain? Ataukah jangan-jangan hidup kita lebih sering memperlihatkan potret manusia yang egois, angkuh dan haus akan pengakuan diri? Di saat kita bersama rindu tentang kehidupan negeri yang sejahtera, maka sebuah perenungan penting yang terlebih dahulu harus dijawab, ialah : bersediakah kita ikut mengenakan mahkota duri dan dengannya bersedia pula menyisihkan segala keserakahan dan keangkuhan dari dalam diri kita? Selamat mengenakan mahkota duri!
(Pdt. Alfred Anggui/Mengapa Mahkota Duri/GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Jala).

Artikel Terkait

Minggu, 02 Oktober 2016

Yang Dikehendaki Allah

..."Lalu kata mereka kepada-Nya, "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?" (Yohanes 6:28)
"Apakah yang harus kami perbuat supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" Ini pertanyaan yang diajukan oleh orang banyak yang berbondong-bondong mengikuti Yesus setelah mereka dikenyangkan dengan roti. Bagi saya, pertanyaan seperti ini seharusnya juga menjadi pertanyaan kita. Kita rindu untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan kehendak Allah. Apakah harus kita lakukan untuk hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya?
Sudah saatnya kita sebagai orang percaya tidak mencari hal-hal yang hanya mengarah pada pemenuhan kebutuhan pribadi. Tidak salah saat kita bertanya dan meminta agar Allah memenuhi keperluan kita sebab memang Allah memberi kita kehormatan untuk meminta sebagai anak-anak-Nya. Namun, sepatutnya kita juga tidak lalai untuk melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kehendak Allah. Inilah prioritas utama yang perlu terus-menerus tertanam dalam hidup kita.
Ketika kita memprioritaskan kehendak Allah dan melakukannya, tidak ada perkara apa pun yang perlu kita takutkan. Pertanyaannya: Pernahkah kita bertanya kepada Allah dan mengungkapkan kerinduan untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya? Mempercayai Yesus Kristus adalah kehendak Allah! Itulah jawaban Yesus atas semua pertanyaan itu. Percaya artinya kita benarbenar mempercayakan hidup kepada-Nya. Jika kita mempercayakan segala sesuatu-perbuatan kita, pekerjaan kita, atau apa pun juga-segala sesuatu yang kita perbuat akan mendatangkan penghormatan bagi Allah dan kesejahteraan bagi sesama
(Yang Dikehendaki Allah/GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Jala).

Artikel Terkait

Iman dan Kesembuhan

Oleh : Pdt. Alfred Anggui
Sepenggal kisah hidup beriman
Seorang ibu yang bergumul dengan penyakit anaknya, pernah bertanya seperti ini, ”Pak Pendeta, sebenarnya apa yang kurang dari iman saya, sehingga anak saya tidak sembuh-sembuh juga?” Pertanyaan tersebut muncul, sebab sang ibu sudah merasa sungguh-sungguh berserah kepada Tuhan, sementara di sisi lain sang anak tak kunjung sembuh. Yang kemudian menjadi soal lebih jauh, oleh beberapa keluarga sang ibu juga lantas diberi label ”kurang beriman” bertolak dari kenyataan penyakit anaknya yang tak kunjung sembuh. Bisa dibayangkan bagaimana beban sang ibu! Selain bergumul dengan penyakit anaknya, ia pun juga dituding sebagai pihak yang ikut bertanggung jawab atas ketidaksembuhan anaknya!
Lain lagi dengan pergumulan seorang istri yang suaminya menderita sakit parah dan kemudian meninggal. Selain bergumul luar biasa dalam merawat sang suami, sang istri juga harus menanggung beban berupa dakwaan sejumlah keluarga yang berpendapat, bahwa sang suami sakit karena dosa-dosanya. Perasaan sang ibu mungkin mirip dengan perasaan Ayub saat menghadapi tudingan yang angkuh dan menghakimi dari sahabat-sahabatnya, justru di saat ia sedang berhadapan dengan penderitaan yang bertubi-tubi!
Sebenarnya bagaimana kesaksian Alkitab tentang hubungan antara iman dan kesembuhan, serta dosa.Jikalau keseluruhan Alkitab (bukan sepenggal-sepenggal) dibaca dengan baik, maka Alkitab sendiri paling tidak mencatat 3 (tiga) model tentang hubungan antara iman dan kesembuhan, yakni :
 
Iman yang membawa pada kesembuhan :
Kisah seorang perempuan Kanaan yang terus mengejar Tuhan Yesus guna memohon kesembuhan bagi anaknya perempuan yang kerasukan setan (Mat. 15 : 21-28), bisa menjadi contoh! Kegigihan sang ibu untuk terus berteriak dan memohon belas kasihan Tuhan Yesus, kemudian berujung jawaban Yesus padanya : ”Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kau kehendaki”. Dan seketika itu juga anaknya sembuh!
Beberapa kisah lain dalam alkitab juga menegaskan hal tersebut! Seorang ibu yang sudah 12 tahun sakit pendarahan dan kemudian datang menjamah jubah Tuhan dengan iman : ”asal kujamah saja jubahNya, aku akan sembuh”, juga beroleh respons serupa dari Yesus. Kepada wanita tersebut Yesus berkata, ”Hai anakku, imanmu telah menyelamatkan engkau!” (Mrk. 5 : 25-34). Demikian pula dengan si lumpuh yang digotong oleh empat temannya dan dibawa pada Yesus melalui atap rumah (Mrk.2:1-12). Dalam kisah tersebut terlihat, kesembuhan si lumpuh diawali dengan sebuah catatan penting, yakni ”Ketika Yesus melihat iman mereka...”. Iman yang kemudian berujung pada kesembuhan!
 
Ber-Iman namun tidak sembuh :
Alkitab ternyata mencatat pula model hubungan seperti ini! Pergumulan Paulus mungkin bisa menjadi contoh! Kepada jemaat di Korintus, Ia bercerita tentang penyakitnya, yakni sebuah duri dalam dagingnya! Menurut Paulus, ”tentang hal itu, aku sudah tiga kali berseru pada Tuhan .....”, tetapi jawab Tuhan, ternyata adalah Tidak! ”Cukup sudah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna” (2Kor.12:8-9)! Apakah Paulus kurang berdoa dan kurang beriman, sehingga ia tidak beroleh kesembuhan dari Tuhan. Tentu saja tidak. Iman sang Rasul tentu saja tak perlu diragukan. Lebih dari itu, ia pun sesungguhnya berkali-kali menyembuhkan banyak orang. Di Listra, Paulus pernah menyembuhkan seorang yang lumpuh sejak lahirnya (Kisah 14:8). Bahkan, saputangan atau kain yang pernah dipakai Paulus pun digunakan orang untuk menyembuhkan orang-orang (Kisah 19:11-12). Tidakkah luar biasa kuasa Allah yang bekerja dalam diri Paulus? Lalu jika Paulus sendiri ternyata tidak beroleh kesembuhan meskipun ia sendiri berulang kali menyembuhkan orang lain, pesannya tentu saja jelas, yakni iman ternyata tidak selalu harus berujung pada kesembuhan. Rencana anugerah Tuhan ternyata jauh lebih besar dan indah dari pada sekedar sebuah kesembuhan saja! Tidak heran, tiga orang sahabat Daniel yang diancam untuk dibuang ke dalam dapur api, berkata pada Nebukadnezar, ”Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.". Terlihat jelas sebuah ungkapan iman! Hidup itu penting, tapi yang jauh lebih penting adalah relasi dengan Tuhan dalam hidup itu sendiri. Kesembuhan itu penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah kesadaran akan kasih setia Tuhan dalam kelemahan yang dialami! Kalau Tuhan ingin membuat kita lebih mengenal kuasa dan kasih-Nya melalui kelemahan dan sakit kita, maka kita tentu harus bisa tetap setia seperti Paulus.
 
Tidak Ber-Iman, namun sembuh:
Hal ini mungkin terdengar aneh, namun memang begitulah keadaannya! Alkitab juga jelas mencatat model relasi iman dan kesembuhan seperti ini. Yang mungkin jadi soal, ialah ada orang yang suka memilih-milih begian alkitab sesuai dengan selera dan keinginannya sendiri. Kisah kesembuhan seorang pengemis yang lumpuh sejak lahirnya, bisa menjadi contoh. Kepada Petrus dan Yohanes yang ia temui di depan Gerbang Indah Bait Allah, sang pengemis mengulurkan tangan meminta sedekah! Yang ia minta hanyalah sedekah! Tak ada petunjuk sama sekali, bahwa ia punya iman!Petrus dan Yohanes yang masuk ke Bait Allah, dilihat tak ubahnya seperti pemberi-pemberi sedekah lainnya.Namun apa yang kemudian ia terima? Ternyata sebuah kesembuhan (Kisah 3:1-10)! Kepada sang pengemis, Petrus berkata : "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" Ia menerima lebih dari yang ia minta,meskipun sang pengemis jelas-jelas tak memiliki iman.
Kisah penyembuhan di Kolam Betesda juga memperlihatkan hal serupa (Yoh.5:1-18). Seseorang yang telah menderita sakit selama 38 tahun disembuhkan oleh Yesus, meskipun ia sendiri sesungguhnya tidak punya iman. Bahkan jangankan iman, si sakit bahkan sama sekali tidak mengenalYesus yang telah menyembuhkannya: Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu (Yesus), sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu (Yoh.5:13).
Hal ini mungkin kedengaran aneh dan sulit diterima! Namun coba simak baik-baik, bukankah Yesus sendiri mengatakan, bahwa Bapa di sorga menerbitkan matahari dan menurunkan hujan, tidak hanya untuk orang benar, tetapi juga untuk orang yang tidak benar (Mat. 5 : 45)? Realitas kehidupan sekitar, sesungguhnya juga bisa memperlihatkan hal tersebut! Banyak orang yang tidak beriman, namun tidakkah mereka juga sembuh?
Jika memang demikian adanya, lalu bagaimana? Apakah ini berarti iman lantas tidak lagi penting? Tentu saja tidak! Bukankah alkitab mencatat sebuah hal penting, bahwa manusia dibenarkan oleh iman (Rm.3:28)? Tuhan jelas menanti iman setiap anak-anak-Nya! Hanya saja perlu diingat, bahwa iman tidak bisa dinilai berdasarkan sembuh tidaknya seseorang! Kisah kesepuluh orang kusta yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus (Luk.17:11-19) bisa menjelaskan hal tersebut!  Dari sepuluh orang yang datang pada Tuhan meminta kesembuhan, semuanya disembuhkan! Namun demikian, dari  kesepuluh orang yang disembuhkan, berapa yang disebut beriman? Ternyata hanya satu orang, yakni dia yang kembali mengucap syukur pada Tuhan. Iman ternyata bukan soal sembuh atau tidak! Yang membedakan orang beriman dan tidak beriman, bukan pada soal apa yang dialami, melainkan pada kemampuan menghayati karya Allah dalam berbagai pergumulan hidup!
Di sisi lain, kesembuhan juga harus diterima sebagai sebuah anugerah Tuhan semata. Seorang anak muda di Nain dibangkitkan kembali oleh Yesus, karena hati Yesus tergerak oleh belas kasihan (Luk.7:13)! Karenanya kesembuhan selalu harus diterima dengan penuh rasa syukur, dan bukan dengan sebuah kesaksian yang kadang disisipi dengan sebuah keangkuhan iman! Sebaliknya, penyakit yang dialami juga selalu harus dilihat dalam terang kasih Tuhan! Sebuah penyakit memang bisa saja merupakan akibat dosa, yang pada gilirannya jelas menuntut introspeksi dan memperlihatkan kerinduan Allah untuk menyaksikan pertobatan setiap manusia untuk kembali pada Tuhan! Namun di sisi lain, dapat pula dipahami sebagai tempat Allah hendak menyatakan kuasa-Nya di tengah umat manusia! Jadi selamat bergumul dalam Iman!
(Pdt. Alfred Anggui/Iman dan Kesembuhan/GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Jala).

Artikel Terkait