Minggu, 02 Oktober 2016

Hidupku Ditentukan Tuhan

Refleksi Lukas 7 : 1 – 10
Oleh : Pdt. Alfred Anggui
Pertanyaan pertama yang muncul saat membaca kisah ini, ialah: apa yang luar biasa dalam diri sang perwira, sampai-sampai Tuhan Yesus memujinya sedemikian rupa? Betapa tidak, Yesus tidak hanya dibuat heran (ayat 9), tetapi lebih jauh Yesus juga mengatakan, bahwa “iman seperti ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel” ! Lalu apa yang istimewa dan luar biasa, yang membedakan iman sang perwira dengan iman orang-orang Yahudi kebanyakan? Tidakkah ini menarik, betapa iman yang istimewa ini tidak Tuhan jumpai dalam diri para imam atau bangsa Yahudi, tetapi justru di dalam diri seorang perwira (centurion) Romawi yang seringkali dipandang sebagai pihak luar.
Kalau kisah ini dibaca baik-baik, hal pertama yang sangat menonjol adalah cara sang perwira memperkenalkan dirinya kepada Yesus. Melalui sahabat-sahabatnya, sang perwira menyampaikan pada Yesus, “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima menerima Tuan di dalam rumahku” (ayat 6). Tidakkah ini luar biasa? Ia seorang perwira Romawi yang tidak hanya punya jabatan dan kedudukan, tetapi juga kemampuan ekonomi yang lebih dari cukup (ayat 5: sang perwira menanggung biaya pembangunan rumah ibadat orang Yahudi). Bahkan lebih dari itu, di mata para tua-tua Yahudi, sang perwira jelas disebutkan sebagai pribadi yang layak untuk ditolong (ayat 4). Dalam hal ini, di mata masyarakat, sang perwira sangat layak dihormati, tetapi di hadapan Tuhan, sang perwira justru menyebut dirinya sebagai orang yang tidak layak. Dia adalah perwira yang berhati seorang hamba, bukan justru sebaliknya, hamba berlagak perwira. Ini sering disebut dengan kenosis (pengosongan diri), yakni sebagaimana yang dilakukan oleh Kristus sendiri: Kaya, tapi terlihat miskin; mulia tapi terlihat sederhana.
Sama seperti buat orang kebanyakan kini, identitas itu sesungguhnya sangat penting. Orang bisa marah ketika ada kesalahan dalam penulisan nama ataupun gelar (lihat di undangan-undangan nikah). Karena itulah, ketika sang perwira justru datang memperkenalkan dirinya dengan cara demikian, tanpa embel-embel pangkat dan status sosial, Yesus justru begitu terkesan. Betapa tidak, dalam diri sang perwira sesungguhnya terlihat betul sebuah sikap kerendahan hati di hadapan Tuhan, yang pada gilirannya juga berarti ketergantungan sepenuhnya pada Tuhan. Ingat Matius 5:3 “Berbahagialah mereka yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga”. Miskin di hadapan Allah! Itulah iman sang perwira! Dia sesungguhnya memiliki banyak hal untuk dibanggakan, tetapi di hadapan Tuhan, ia sadar betul, bahwa ia sama sekali bukan siapa-siapa!
Kerendahan hati atau miskin di hadapan Tuhan merupakan hal yang sangat penting, sebab mujizat dan karya besar Tuhan justru seringkali dimulai dari kerendahan hati dan kebergantungan sepenuhnya manusia kepada Tuhan. Itu sebabnya Yesus sendiri kemudian menegaskan, “...jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan Sorga” (Mat.18:3). Menjadi seperti anak kecil berarti menjadi orang yang sepenuhnya bergantung kepada Tuhan (persamaan semua anak kecil adalah mereka sepenuhnya bergantung pada orang tua). Ingat kisah Daud saat harus bertempur melawan Goliat. Ia memang tak mahir untuk menggunakan pedang dan baju perang. Demikian pula jika dibandingkan dengan Goliat, tentara Filistin yang sangat terlatih dan berpengalaman, Daud jelas bukanlah apa-apa. Namun kisah kemenangannya atas Goliat kemudian bisa terjadi, sebab satu hal yang menjadi keyakinan Daud yang diucapkan kepada Goliat: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam” (1 Sam. 17:45). Terlihat jelas sikap yang sepenuhnya bergantung pada Tuhan. Yang soal bukan seberapa besar Goliat atau seberapa pintar dan lihai Daud, melainkan pada seberapa jauh seseorang mau mengandalkan Tuhan sepenuhnya!
Hal kedua yang istimewa dalam diri sang perwira (yang sesungguhnya terkait juga dengan bagian yang pertama), adalah pesan iman sang perwira: “tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (ayat 7). Tidakkah ini luar biasa? Kata-kata sang perwira mengandung serangkaian makna iman yang luar biasa! Dia seorang perwira yang memiliki berbagai bentuk kehormatan dan kekuasaan. Namun dia sepenuhnya sadar, betapa kesembuhan hambanya, masa depan anak-anaknya, selesainya persoalan keluarga, sepenuhnya hanya ditentukan oleh apa yang Tuhan katakan. Dalam hal ini, kesembuhan hambanya ataupun terpecahkannya berbagai persoalan dalam keluarganya, adalah sama sekali tidak terkait dengan jabatan ataupun kedudukannya. Sebaliknya, ini sepenuhnya hanya ditentukan oleh apa yang Tuhan katakan.
Yang mungkin soal adalah, berapa banyak orang yang sungguh-sungguh meyakini kuasa dan kebesaran dari sabda atau perkataan Allah sendiri. Ingat bagaimana dunia dan isinya ini diciptakan? Semua (kecuali manusia) hanya diciptakan dengan sabda atau perkataan Allah. Melalui nabi Yesaya, Allah juga menegaskan, bahwa: “demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepadaku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang kusuruhkan kepadanya” (Yes. 56:11). 
Luar biasa iman sang perwira. Hal terakhir yang menarik diperhatikan, adalah kenyataan, betapa iman sang perwira sebagai kepala keluarga, ternyata tidak berdampak langsung pada dirinya. Sebaliknya, yang justru merasakan dampak langsung dari imannya adalah hambanya sendiri, anggota keluarganya sendiri (pada masa itu, seorang hamba selalu dipandang merupakan bagian dari keluarga sang majikan). Kita tentu ingin memiliki iman seperti itu, iman yang kita yakini juga akan memiliki dampak bagi keselamatan orang-orang yang kita kasihi. Amin.
(Pdt. Alfred Anggui/Hidupku Ditentukan Tuhan /GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Jala).

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar