Minggu, 29 Juli 2018

Kesempatan Atau Kesempitan

Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" (Bilangan 13:30)
Dulu setiap pulang kuliah, saya berjalan kaki sejauh 1, 5 km dari jalan raya sampai ke rumah. Tak jarang saya kesal lalu menggerutu dalam hati, mengapa saya tak punya sepeda motor seperti teman-teman saya. Sekarang, saya punya kendaraan pribadi. Lucunya, saya harus meluangkan waktu khusus untuk berolahraga jalan kaki 2, 5 km keliling kompleks. Saya tak pernah menggerutu. Saya melakukannya dengan semangat karena ingin menjaga kesehatan.
Andai dulu saya menganggap berjalan pulang sejauh 1, 5 km sebagai olahraga, tentu saya melakukannya dengan bersemangat. Sayang, waktu itu saya memandang jalan kaki sebagai masalah. Pada akhirnya, cara pandang saya yang salah membuat sikap hati dan tindakan saya ikut salah. 
Cara pandang yang salah akan melahirkan sikap hati dan tindakan yang salah. Sebaliknya, cara pandang yang benar akan melahirkan sikap hati dan tindakan yang benar. Dua belas pengintai menyaksikan hal yang sama, namun hanya Kaleb (ay. 30) dan Yosua (Bil 14:6-9) yang memiliki cara pandang, sikap hati, dan tindakan yang benar. Pada akhirnya, nama mereka masyhur, bahkan sampai hari ini.
(Kesempatan Atau Kesempitan/GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Widjaja Lagha).
Artikel Terkait

Memulihkan Gambar Allah

....Kita semua ...diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar (2 Korintus 3:18)’’
Semasa kecil, teolog Alister McGrath senang bereksperimen dengan bahan kimia di laboratorium sekolahnya. Ia suka menjatuhkan sekeping uang logam yang kusam ke dalam gelas kimia berisi asam nitrat yang telah diencerkan. Ia sering menggunakan uang logam penny Inggris yang kuno bergambar Ratu Victoria. Karena kotoran yang menumpuk pada uang logam itu, gambar sang ratu menjadi tidak dapat terlihat dengan jelas. Namun, asam membersihkan kotoran pada logam itu dan gambar sang ratu pun dapat terlihat kembali dalam keagungannya yang cemerlang.
Kita tahu pasti bahwa kita ini diciptakan seturut dengan gambar Allah (Kejadian 1:26), meskipun gambar itu telah kotor karena dosa-dosa kita. Namun demikian, kita tetap menyandang gambar Allah.
Begitu kita mengundang Yesus masuk ke dalam kehidupan kita sebagai Sang Juruselamat, Dia bekerja untuk membenahi gambar asli kita. Dia mengubah kita agar menjadi serupa dengan-Nya (2 Korintus 3:18). Proses ini digambarkan dengan menanggalkan sebagian perilaku yang ada dan mengenakan perilaku yang lain. Sebagai contoh, ada tertulis, “Buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah, dan kata-kata kotor” (Kolose 3:8) dan “kenakanlah kasih” (ayat 14).
Jika jiwa kita yang telah kusam karena dosa tidak dibasuh oleh pengampunan Yesus, gambar Allah akan tampak kabur di dalam kehidupan kita. Namun bila kita memercayai pengurbanan Yesus di kayu salib, maka kita pun diampuni dan pemulihan itu dimulai.
(Memulihkan Gambar Allah/GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Widjaja Lagha).
Artikel Terkait

Allah Kemuliaanku

....Engkau, Tuhan, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku (Mazmur 3:4)
Apakah Allah adalah kemuliaan Anda? (Mazmur 3:4). Kata kemuliaan merupakan terjemahan dari kata Ibrani yang berarti "bobot" atau "makna".
Sebagian orang mengukur berharga tidaknya mereka melalui kecantikan, kecerdasan, uang, kekuasaan, atau gengsi. Namun, Daud yang menulisMazmur 3menemukan rasa aman dan berharga di dalam Allah. Ia mengatakan bahwa banyak orang melawannya. Ia mendengar suara kejam mereka dan sempat tergoda untuk mempercayai perkataan mereka, menyerah pada rasa takut dan keputusasaan. Namun, ia menghibur dan menguatkan hatinya dengan berkata, "Engkau, Tuhan, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku" (ayat 4).
Kesadaran itu sungguh menghasilkan perubahan! Daud memiliki Allah, sedangkan para musuhnya tidak. Dengan demikian ia dapat menegakkan kepala dengan penuh keyakinan.
Ayat-ayat seperti Mazmur 3:4dapat membawa kedamaian dalam hati Anda, bahkan ketika Anda beradadi tengah badai masalah. Allah adalah perisai dan pembebas Anda. Dia akan menangani penderitaan Anda tepat pada waktunya.
Sementara itu, ungkapkan kepada Allah segala permasalahan Anda. Biarkan Dia menjadi kemuliaan Anda. Anda tidak perlu membela diri. Mintalah Dia menjadi perisai Anda, untuk melindungi hati Anda dengan kasih dan perhatian-Nya yang senantiasa menyertai. Kemudian, seperti halnya Daud, Anda dapat berbaring dengan damai dan tidur nyenyak walau puluhan ribu orang melawan Anda (ayat 6,7).
(Allah Kemuliaanku/Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Widjaja Lagha).
Artikel Terkait

“Hikmat Firman Allah”

 ....Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? ... Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?(1Korintus 1:20)
Kita menggali Kitab Suci. Kitab Suci diilhamkan oleh Allah dan mengajarkan kepada kita jalan menuju hidup yang berkelimpahan di dunia ini serta hidup kekal di dunia yang akan datang. Memang benar, Kitab Suci merupakan sumber hikmat yang melebihi hikmat para filsuf yang paling bijaksana sekalipun (1 Korintus 1:20). Akan tetapi, fakta ini jarang diakui dalam kebudayaan kita. 
Maka saya pun gembira pada saat membaca sebuah artikel yang ditulis oleh kolumnis The New York Times, David Brooks, yang memuji hikmat alkitabiah. Ia memuji Martin Luther King Jr. karena wawasan tentang sifat manusia diperolehnya dari Kitab Suci. Ia merasa bahwa King "memiliki pandangan yang lebih akurat tentang realitas politik dibandingkan sekutu-sekutu liberalnya yang lebih sekuler karena ia dapat memanfaatkan hikmat alkitabiah mengenai sifat manusia. Agama tidak hanya membuat para pemimpin yang merumuskan hak asasi manusia lebih kuat—agama membuat mereka lebih pintar". Dan Brooks berkata lebih lanjut, "Hikmat alkitabiah lebih dalam dan lebih akurat daripada hikmat yang ditawarkan ilmu-ilmu sosial sekuler."
Apakah kita memanfaatkan sumber hikmat itu di dalam kehidupan kita? Kita membutuhkan hikmat Kitab Suci untuk mengatasi masalah-masalah pribadi kita dan persoalan politik. Jika kita mempelajari dan menaati Alkitab, kita akan dapat bersaksi dengan rendah hati bersama sang pemazmur, "Aku lebih berakal budi daripada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan" (Mazmur 119:99).
Peganglah hal ini : bahwa Firman Allah itu hidup dan berkuasa. Bacalah dengan setia. Pelajarilah dengan hati terbuka. Alamilah hubungan yang hidup dengan Firman itu. Izinkan Tuhan membentuk ulang sisi-sisi hidup kita sesuai dengan firman-Nya. Mengubahkan hidup kita. Bahkan menjadi benar-benar baru, seperti yang Dia mau.
(“Hikmat Firman AllahHIKMAT” Amsal 8:12-2/GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Widjaja Lagha).
Artikel Terkait

Mukjizat Utama

Lima tahun-waktu yang panjang dan berat bagi ibu dalam berjuang melawan kanker. Setelah beberapa kali mendapatkan mukjizat kesembuhan, kini maut tidak dapat dielakkan lagi. Ibu menutup usia pada 21 September 2013. Pada hari itu, saya menyadari bahwa mukjizat terbesar bukanlah mukjizat kesembuhan, melainkan karena ibu telah percaya kepada Tuhan dan berpegang teguh pada iman sampai akhir hayatnya. Dan kini, sekalipun kematian telah menjemputnya, saya yakin ibu telah berbahagia bersama Kristus di surga. 
Mengharapkan mukjizat kesembuhan dari Tuhan tentulah tidak salah. Namun, jika kita hanya mengharapkan kesembuhan, kekuasaan, dan kekayaan dari Tuhan, menurut rasul Paulus, kita adalah orang yang paling malang di dunia ini. Mengapa? Semua itu hanya bersifat sementara. Hadiah utama yang diberikan Kristus bagi mereka yang percaya kepada-Nya adalah kebangkitan dari kematian. Ya, karena Kristus telah bangkit sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.
Tidak semua orang Kristen mendapatkan mukjizat kesembuhan, kelimpahan materi, atau kejayaan. Namun, semua orang yang percaya pada Kristus pasti akan dibangkitkan ketika Dia datang untuk kedua kalinya. Itulah pengharapan dan mukjizat yang utama bagi kita. Karena itu, janganlah berkecil hati jika di dalam dunia ini kita masih menghadapi berbagai macam kesulitan atau sakit-penyakit. Tetaplah berpegang teguh pada pengharapan iman kita. Hidup yang kekal dan mahkota kemuliaan tersedia bagi mereka yang percaya.
(Mukjizat Utama /GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Widjaja Lagha).
Artikel Terkait

Bukan Memegahkan Diri

: ...."Atas orang itu aku hendak bermegah, tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan kelemahanku. (2 Korintus 12:5)
Sebagai orang beriman, kita memiliki beberapa tugas khusus, salah satunya adalah bersaksi. Bersaksi dimaksudkan untuk menyampaikan pengalaman hidup kita bersama dengan Tuhan, baik yang senang maupun yang susah, dengan mengedepankan kebaikan Tuhan, bukan membanggakan kehebatan kita. Tujuannya bukan agar orang memuji kita, melainkan agar mereka memuliakan Tuhan. Masalahnya, tidak jarang yang terjadi justru sebaliknya.
Sewaktu Rasul Paulus bersaksi tentang kehidupan imannya, ia cukup berhati-hati agar tidak terjebak ke dalam kecenderungan manusia untuk menyombongkan diri tersebut (ay. 11-13). Walaupun telah mengalami pengalaman rohani yang dahsyat (ay. 1), Paulus tidak ingin membanggakannya. Dalam menceritakan penglihatannya, ia justru memperhalus pernyataannya dengan kalimat "ada seorang Kristen" dan bukan terang-terangan berkata "sewaktu saya diangkat ke surga". Disebutkan juga "entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu", dan selanjutnya ditegaskan hanya "Allah yang mengetahuinya" (ay. 2, 3). Paulus menyadari, pengalaman itu bukan karena kehebatan dirinya, melainkan karena kemurahan Tuhan atasnya sekalipun dirinya penuh kelemahan.
Sebuah kerendahan hati yang patut diteladani, bukan? Ia seorang rasul yang istimewa, namun hal itu tidak menjadikannya membusungkan dada. Ia tidak segan untuk mengakui kelemahannya, dan menonjolkan kebaikan Tuhan. Begitu juga dengan kesaksian kita. Kiranya kebaikan Tuhanlah yang menjadi pusatnya. 
(Bukan Memegahkan Diri /GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Widjaja Lagha).
Artikel Terkait

Selasa, 24 Juli 2018

Kristus Rumah Kita

....Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu (Yohanes 15:4)
Dalam bahasa Inggris ada kata house dan home. Namun, kita hanya mengenal kata "rumah" untuk menerjemahkan keduanya. House ialah bangunan fisik tempat tinggal, adapun home mengacu pada hubungan yang penuh makna antara manusia dan tempat huniannya. Home mewakili tempat yang paling membuat kita kerasan di dunia ini.
Itulah kira-kira yang dimaksudkan Yesus tatkala Dia menghendaki agar kita tinggal di dalam Dia. Dalam bahasa Yunani, kata tinggal itu memiliki konteks yang luas. Berkaitan dengan tempat, tinggal berarti menetap; berdiam; tidak meninggalkan; senantiasa hadir. Berkaitan dengan waktu, tinggal berarti berlangsung terus-menerus; bertahan; berjaga-jaga; tidak binasa; langgeng. Berkaitan dengan keadaan, tinggal berarti tetap seperti semula; tidak berubah. Selain itu, tinggal juga berarti menantikan seseorang. Dengan memadukan berbagai pengertian tersebut, tinggal di dalam Kristus dapat dimaknai sebagai "menjadikan Kristus sebagai rumah kita selama-lamanya".
Lalu, bagaimana kita tinggal di dalam Kristus? Kita dapat menemukan jawabannya melalui makna rumah (home). Rumah ialah tempat hati kita tertuju, tempat kita pulang tatkala rindu. Di rumah, kita rehat untuk mendapatkan pemulihan dan penyegaran. Di rumah, kita merasa nyaman dan leluasa menjadi diri sendiri. Di rumah, kita menemukan keamanan dan ketenteraman. Di rumah pula, kita bersekutu dengan orang-orang yang kita kasihi dan melakukan hal-hal yang kita senangi. Singkatnya, rumah menjadi pusat aktivitas hidup kita. Nah, apakah kita menjadikan Kristus sebagai "rumah" kita?
DI DALAM KRISTUS KITA TINGGAL SELAMA-LAMANYA:BERAKAR, BERTUMBUH, DAN BERBUAH BAGI KEMULIAAN BAPA.
(Kristus Rumah Kita/GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Widjaja Lagha)
Artikel Terkait

Yesus Membebaskan Kita

....Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu (Yohanes 8:32)
Setelah zaman Rasul Paulus, barangkali belum ada orang lain yangmenuliskan pengalamannya pada saat mengalami tekanan rohani secara jelas, selain ahli teologi terkenal bernama Agustinus (354-430 M). Meskipun dikaruniai kepandaian yang luar biasa, di masa mudanya ia pernah berkubang dalam kebobrokan moral yang sangat parah.
Sambil mengenang masa lalu, Agustinus mengisahkan pergumulannya, "Saya diikat oleh rantai besi kehendak saya sendiri. Saya cenderung menjadiseorang penderita yang patah semangat, bukannya orang yang memiliki kemauan untuk bangkit. Kehendak itu menjadi senjata makan tuan bagi saya, karena saya telah menjadi apa yang sesungguhnya tidak saya kehendaki."
Banyak di antara kita yang pernah menjalani pergumulan serupa. Kita ingin terbebas dari dosa, tetapi ternyata kita selalu mendapati diri tidak mampu mematahkan rantai kehendak kita. Kemudian, ketika kita percaya kepada Yesus, kita dibebaskan dan dapat menyuarakan kembali lirik kidung pujian karya Charles Wesley: "Lama sudah rohku terbelenggu dalam dosa dan gelapnya kemanusiaanku; mata-Mu memancarkan sinar yang menghidupkan kembali, aku terbangun, tempat aku dikurung tiba-tiba diterangi cahaya! Rantai yang membelengguku terlepas, rohku dibebaskan; aku bangkit, keluar, dan mengikut Dia."
Hanya Yesus, satu-satunya Pribadi yang mampu melepaskan belenggu dosa di dalam hidup Anda. Terimalah Dia sebagai Juru Selamat Anda, dan "kebenaran itu akan memerdekakan kamu" (Yohanes 8:32).
(Yesus Membebaskan Kita/GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Widjaja Lagha)
Artikel Terkait

Melihat Kemuliaan Allah

....Sungguh, kemuliaan Allah Israel datang dari sebelah timur ( Yehezkiel 43:2)
Saya mendapat kesempatan istimewa untuk melihat hal-hal menakjubkan dalam kehidupan. Saya telah melihat peluncuran pesawat ruang angkasa di malam hari yang begitu mengagumkan dan menggugah hati, kemegahan Gunung Fuji di Jepang, kecantikan kehidupan laut di pantai Kepulauan Filipina, keajaiban arsitektur kota New York, dan lautan penonton pertandingan bisbol malam hari di stadion liga utama, pada pertengahan musim panas.
Namun, tak satu pun dari yang saya lihat itu bisa mendekati apa yang dilihat para tokoh Perjanjian Lama. Musa, umat yang dipimpinnya, Yehezkiel, dan orang-orang lain dalam sejarah Alkitab menjadi saksi berbagai peristiwa yang membuat orang terpesona. Mereka telah melihat sekilas keagungan Allah, suatu wujud nyata dari keberadaan dan sifat Tuhan yang tak kasatmata.
 
Musa mengalami kemuliaan-Nya di Gunung Sinai, wajahnya bercahaya (Keluaran 34:29). Umat Israel melihat kemuliaan itu dalam tiang awan, sebelum Allah menyediakan burung puyuh bagi mereka (16:10). Yehezkiel melihat kemuliaan Allah masuk ke dalam Bait Suci, sehingga ia pun sembah sujud (Yehezkiel 43:1-5)
Suatu hari kelak umat tebusan Yesus juga akan mengalami penglihatan yang luar biasa. Kemuliaan Allah akan bercahaya sempurna di Yerusalem surgawi (Wahyu 21:10,11). Kita pun akan melihat Juruselamat kita yang bangkit dan dimuliakan, Tuhan Yesus (1 Yohanes 3:2).
Harapan ini mendorong kita sebagai umat kristiani untuk terus maju. Alasannya, tak ada sesuatu pun di dunia ini yang sebanding dengan anugerah melihat kemuliaan Allah!
(Melihat Kemuliaan Allah/Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Widjaja Lagha).
Artikel Terkait

Bukan Urusanmu

....Ketika Petrus melihat murid itu [Yohanes], ia berkata kepada Yesus: "Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?" (Yohanes 21:21)
Dalam bukunya The Unchained Soul (Pelepasan Dalam Jiwa), Calvin Millermelukiskan pergumulannya melawan iri hati dan kesombongan. Saat menjadi calon pendeta, ia dan seorang anggota gereja pada waktu yang hampir bersamaan mendaftarkan rumah mereka untuk dijual. Untuk menjual rumah, Miller membutuhkan waktu satu tahun, sedangkan rumah si anggota gereja itu terjual hanya dalam waktu 3 hari. Ketika orang bertanya kepada pria itu mengapa rumahnya dapat terjual dalam waktusingkat, ia selalu menjawab, "Saya hanya menyerahkan rumah itu ke dalam tangan Allah, dan Dia menjualkannya dalam waktu tiga hari."
 
Miller mengakui bahwa saat pria itu berkata demikian, ia berkata kepada Allah, "Ya, Allah, apa yang telah membuat-Mu menentangku?" Ia bertekad melakukan pembelaan diri terhadap kesombongan orang yang berhasil menjual rumahnya itu. Ia seolah ingin mengingatkan Allah betapa kehidupan rohaninya lebih hebat dibandingkan dengan kedangkalan kehidupan rohani orang tersebut. Lagi pula sudah tak terhitung banyaknya ia mengadakan kelas Pendalaman Alkitab di rumahnya dan membimbing banyak orang kepada Tuhan, sementara orang tersebut tidak mengerjakan apa pun.
Kita bisa menjadi egois saat Allah memberkati orang lain, sementara itu seolah tak mau tahu kepentingan kita. Saat itu, kemarahan dan iri hati biasanya muncul. Ketika Rasul Petrus ingin tahu masa depan Yohanes, Yesus mengatakan bahwa hal itu bukanlah urusan Petrus. Dia berkata kepadanya, "Ikutlah Aku" (Yohanes 21:21,22). Mungkin kita bisa belajar dari pengalaman Petrus dan tetap mengarahkan pandangan mata kepada Kristus.
(Bukan Urusanmu/Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Widjaja Lagha).
Artikel Terkait

Iman Tetap Teguh

.. sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah (Filipi 2:16)
Ada sebuah gereja di Bali yang tetap mempertahankan arsitektur Bali dalam bangunannya. Di gereja itu terdapat sebuah kolam dengan bunga teratai yang menghias permukaannya. Pendeta I Made Dana pernah menjelaskan kepada saya bahwa air dan teratai memiliki makna teologis bagi gereja-gereja di Bali. Sebagaimana air kolam itu kadang berpermukaan tinggi, rendah, bahkan pernah hampir kering, demikian pula permasalahan hidup umat manusia. Dan, sebagaimana teratai selalu berada di atas air yang seperti apa pun, demikianlah umat yang beriman kepada Kristus diminta untuk tetap dapat me-ngatasi permasalahan itu.
 
Jemaat di Filipi diingatkan Paulus untuk "mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar ... karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu ... menurut kerelaan-Nya" (ayat 13). Artinya, perjuangan memelihara iman di dunia yang keras ini bukan perjuangan umat sendiri. Akan tetapi, perjuangan bersama Allah. Maka, umat Tuhan harus meyakini bahwa perjuangan imannya adalah perjuangan yang penting, sebab Allah ikut bersama dan menemani umat-Nya. Hasilnya, adalah kehidupan yang penuh makna dan sukacita. Sekalipun dalam perjuangan itu, terkadang penderitaan dan darah menjadi bagiannya, sebagaimana dialami Paulus: "aku tidak percuma berlomba dan bersusah-susah ..." (ayat 16).
Hidup di dunia ini, bukan hidup yang mudah. Namun, bukan berarti kita boleh menyerah. Dalam kesulitan dan penderitaan, orang yang berjuang bersama Kristus akan beroleh penguatan, makna hi-dup, sukacita. Orang semacam ini seperti bunga teratai yang selalu berada di atas air ... seberapa pun banyak sedikitnya air itu.
(Iman Tetap Teguh /GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Widjaja Lagha).
Artikel Terkait

Kamis, 19 Juli 2018

Undangan Yang Mengubuh

....Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat (Lukas 5:32)
Kita selalu melihat orang lain dengan memakai sebuah "kacamata". Bukan kacamata secara fisik, melainkan "kacamata" mental di dalam pikiran kita. Dengan "kacamata" mental itu, kita menyikapi segala sesuatu: menyukainya, menghindarinya, merengkuhnya, mengabaikannya, memujinya, atau mengkritisinya. "Kacamata" mental masing-masing orang tak sama. Namun, sedikit banyak "kacamata" mental yang kita pakai ikut menentukan sikap kita.
Orang yang pekerjaannya memungut cukai, seperti Lewi, biasa dilihat dengan "kacamata" mental yang buram, bahkan gelap, karena cara hidup dan pekerjaannya. Pemungut cukai identik dengan orang yang rakus harta, menindas bangsa sendiri demi keuntungan pribadi, antek pemerintah penjajah yang hidup makmur dari pemerasan pajak pasar. Pendek kata, bagi banyak orang Yahudi, pemungut cukai semacam ini dipandang sebagai orang yang paling berdosa. Karena itu, ketika Lewi menanggapi ajakan Yesus untuk mengikuti Dia (ayat 28), orang Yahudi menjadi sinis. Mereka belum bisa melepas "kacamata" mental mereka.
Kenyataannya, Yesus dekat dengan orang-orang berdosa. Akan tetapi, kedekatan Yesus dengan mereka bukan berarti bahwa Yesus dekat dengan dosa, melainkan hendak mendekat kepada pribadi yang melakukan dosa, agar ia diselamatkan. Itu sebabnya Dia memanggil setiap saat: "Ikutlah Aku ... ikutlah Aku." Siapa pun Anda menurut anggapan orang, Yesus menawarkan keselamatan dan pemulihan. Dia selalu memandang kita dengan penuh belas kasih. Dan, tidak pernah ada kata terlambat untuk datang kepada-Nya
(Undangan Yang Mengubah/GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Widjaja Lagha).
Artikel Terkait

Rabu, 18 Juli 2018

Tuhan Adalah Raja

...."TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak (Mazmur 97:1)”

Pada akhir tahun 1930-an, seorang dokter muda di Jerman bernama Dr. Herbert Gezork cukup beruntung karena                                      tidak jadi dijatuhi hukuman mati, tetapi hukuman pengasingan. Namun, malam sebelum keberangkatannya ke                                                                     Amerika, ia berjalan-jalan di sepanjang jalan kota Hamburg dalam keadaan sangat berputus asa. Ia terus-menerus                                        bertanya, "Apa yang bisa kita harapkan dari dunia yang dikuasai oleh kekuatan roh jahat ini?"
Kemudian Gezork mendengar suara musik mengalun dari sebuah gereja. Ia memasuki gereja itu dan mendengarkan pemain organ memainkan lagu pujian A Mighty Fortress Is Our God (Allah Kita Adalah Kota Benteng yang Teguh). Salah satu bait lagu tersebut terngiang di benaknya: "Dan sekalipun dunia ini dikuasai oleh iblis yang mengancam kita, kita tidak akan takut, karena Allah telah berjanji akan memberi kita kemenangan." Perlahan-lahan kebenaran yang terkandung dalam lirik     lagu    tersebut meresap ke dalam jiwanya dan memberinya damai sejahtera.
Seperti halnya lirik lagu itu, kata-kata dalam Mazmur 46 dapat berpengaruh sama pada kita ketika berputus asa. Pemazmur menyatakan kekuasaan Allah atas segala kekuatan alam (ayat 2-4) dan atas segala bangsa (ayat 5-11). Tuhan akan menghakimi orang fasik dan menolong umat-Nya. Kepada mereka yang resah dan memberontak Dia berkata, "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku... ditinggikan di bumi!" (ayat 11). Kita yang mengenal Dia dapat berseru dengan sukacita, "TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub" (ayat 12). Tuhan adalah Raja!
(Tuhan Adalah Raja/GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Widjaja Lagha).
Artikel Terkait

Sukacita Karena Pembebasan



...Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat (Lukas 15:10)
Xx1
Pada November 2001, banyak orang di seluruh dunia bersukacita ketika delapan orang tawanan dibebaskan setelah tiga bulan mengalami ketegangan karena ditawan di Afghanistan. Mereka telah dituntut karena menyebarkan ajaran kristiani. Pada saat itu hukuman untuk kesalahan itu adalah hukuman mati.
Setelah bebas, mereka menuju jalanan dan disambut oleh pelukan dan tepukan tangan. Ketika tiba di Pakistan, mereka pun disambut dengan hangat dan meriah. Kemudian ketika kembali ke Texas, diadakan perayaan yang sangat meriah di gereja asal dua tawanan di antara mereka, yakni Dayna Curry dan Heather Mercer. Anggota-anggota gereja yang ikut berdoa semalam suntuk, bergabung bersama staf gereja untuk bersukacita. Pendeta mengangkat tangan dan berseru, "Terima kasih Tuhan!"
Ketika saya membaca berita mengenai pembebasan tawanan-tawanan itu, saya teringat pada kebebasan lebih besar yang dapat kita alami, yaitu kebebasan dari dosa. Ketika kita menerima Kristus sebagai Juruselamat, kita dibebaskan dari hukuman dan ikatan dosa (Roma 6:6,23). Malaikat-malaikat Allah akan bersukacita (Roma 6:6,23) dan penghuni surga akan bergembira (ayat 7).
Berkat penebusan tidak dapat diukur. Jadi, ketika orang-orang kristiani mendengar bahwa seseorang dibebaskan dari dosa, kita akan bersukacita!
(Sukacita Karena Pembebasan /GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Widjaja Lagha).
Artikel Terkait