Minggu, 02 Oktober 2016

Mengapa Mahkota Duri

Sebuah Refleksi Memperingati Sengsara Kristus.
Oleh : Pdt. Alfred Anggui
Raja dengan mahkota yang berhiaskan emas dan permata, tentu saja merupakan dua hal yang memang berpadanan. Namun demikian, bagaimana bila seorang Raja justru “dianugerahi” sebuah mahkota duri? Tidakkah ini merupakan dua hal hal yang justru saling bertolak belakang? Jika mahkota yang berhiaskan emas dan permata mencerminkan potret kebesaran seorang raja, maka pesan apa yang mungkin terungkap dari sebuah mahkota duri? Secara sepintas, pandangan mata manusia yang pada umumnya memang sudah dijejali dengan keserakahan dan keangkuhan, tentu saja tidak akan pernah bisa melihat keindahan dan keluhuran makna sebuah mahkota duri, melainkan sebaliknya : hanya sebuah potret dan makna tentang deretan kepedihan dan kehinaan yang amat dalam, serta ketidakberdayaan belaka! Namun jika demikian, mengapa Yesus secara sadar justru kemudian memilih untuk menerima dengan penuh komitmen, mahkota duri yang “dikenakan” padaNya? Pesan apa yang sebenarnya Yesus ingin perlihatkan melalui mahkota duri yang dikenakanNya? “Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja orang Yahudi!" (Mat. 27 : 29).
Pilihan Hidup untuk Setia
Jalan kehidupan yang dipilih oleh Yesus memang amat sulit untuk dimengerti oleh logika manusia, utamanya logika yang sudah terlalu banyak dirasuki oleh keserakahan dan pementingan diri sendiri. Tak heran, sekali waktu, sesaat setelah selesai berkhotbah tentang perkataan Yesus : “lebih baik memberi daripada menerima”, seorang bapak kemudian lantas datang bertanya, “Pak pendeta, apakah pesan itu masih realistis?”. Tentu saja pertanyaan ini sangat aneh dan ironis, sebab nampak jelas betapa perkataan Yesus justru menjadi asing dan aneh di telinga murid-murid Tuhan sendiri! Tak jauh berbeda dengan pandangan Petrus yang sulit menerima kenyataan tentang penderitaan Yesus! Ketika Yesus memberitahukan murid-muridNya tentang jalan sengsara yang harus Ia tempuh, Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." (Mat. 16 : 22). Jalan mahkota duri nampak sulit diterima, sebab dipandang tak sesuai dengan jatidiri seorang Mesias Sang Juruselamat.
Yang kemudian menarik diperhatikan, ialah tanggapan Yesus kemudian terhadap apa yang dikemukakan oleh Petrus. Kepada Petrus, Yesus mengatakan: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." Nampak jelas terlihat, apa makna mahkota duri bagi Yesus sendiri! Bagi Yesus, mahkota duri adalah konsekuensi dari sebuah pilihan hidup untuk setia kepada Bapa! Tak ada tempat untuk mendengarkan kata hati sendiri! Sepahit apapun cawan yang harus Ia minum, pada akhirnya dengan tegar Ia mengatakan, "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!"
Yesus sendiri sesungguhnya bukan tanpa pilihan! Ia bisa saja lari dan berpaling dari rencana sang Bapa. Ketika Petrus melakukan perlawanan saat Yesus hendak ditangkap, yakni dengan memotong telinga Malkhus, dengan jelas Yesus mengatakan, “...kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? (Mat. 26 : 53)
Mahkota duri memperlihatkan sebuah pesan tentang kesetiaan pada panggilan! Sebagai umat milik Tuhan, tidak ada hal lain yang harus didahulukan, selain setia dan taat sepenuhnya kepada Sang Bapa! Seperti kata rasul Paulus kepada jemaat di Galatia : adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus” (Gal. 1 : 10). Setiap orang mungkin saja boleh kehilangan berbagai hal, tetapi jangan sampai kehilangan kesetiaannya kepada Tuhan! Tak heran, jika Yesus kemudian pernah berujar, “Setiap orang yang siap membajak, tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk.9 : 62). Karena itu, di saat banyak orang menganggap begitu rendah dan karenanya lantas begitu mudah menggadaikan, bahkan meninggalkan panggilan dan jatidirinya sebagai milik Kristus, hanya karena sebuah persoalan yang mungkin begitu sederhana, mahkota duri kiranya bisa mengingatkan kembali makna kesetiaan pada panggilan Tuhan!
Perlawanan Terhadap Keangkuhan
Maslow, pernah mengemukakan sebuah teori tentang tingkatan kebutuhan hidup manusia. Menurutnya, puncak tingkatan kebutuhan manusia adalah terkait dengan aktualisasi diri atau kebutuhan akan pengakuan diri. Apa artinya? Keangkuhan atau sebuah kebutuhan untuk mendapat pengakuan atas status atau identitas diri seseorang ternyata memang seringkali menjadi bagian kehidupan seseorang. Karenanya, meski sudah beroleh kedudukan yang tinggi, ataupun juga kekayaan yang melimpah, namun bila dirinya belum dikenal dan diakui oleh orang sekitar atau sekampung, nampak bahwa itu belum cukup. Murid-murid Yesus sendiri pun tak luput dari hal seperti ini. Mereka acap kali berdebat, tentang siapa yang terbesar di antara para murid? Satu dari tiga pencobaan yang dialami oleh Yesus di padang gurun, sesungguhnya juga merupakan godaan yang terkait dengan kebutuhan akan pengakuan diri! Permintaan untuk menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah, tempat banyak orang berkumpul, merupakan godaan untuk beroleh pengakuan diri, yakni dengan melakukan mujizat di depan banyak orang! Yesus jelas menolak! Bahkan di saat para ahli Taurat dan orang Farisi meminta sebuah tanda dariNya agar mereka bisa percaya, Yesus bahkan mengatakan, tidak ada tanda yang akan diberikan selain tanda Nabi Yunus, yakni tanda yang jelas menunjuk pada peristiwa kematian Yesus Kristus (Mat. 12 : 38-40).
Terkait dengan hal tersebut, mahkota duri sesungguhnya hendak memberikan sebuah pesan penolakan terhadap keangkuhan. Padanan sebuah mahkota bukanlah emas dan permata, melainkan duri yang tajam dan menyakitkan. Tak heran, semasa hidupNya Yesus bahkan melakukan sebuah tindakan yang tak pernah dilakukan seorang tuan, guru atau majikan pada masa itu, yakni membasuh kaki murid-muridNya. Saat mengambil kain lenan dan mengikatkannya pada pinggangNya, Yesus tanpa ragu mengambil peran seorang hamba. Ia membasuh kaki murid-muridNya, lalu menitipkan sebuah pesan sarat makna bagi mereka: “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu” (Yoh.13 : 14).
Makna semuanya ini jelas : mahkota duri merupakan sebuah tawaran pola hidup bagi setiap murid Tuhan. Keindahan seseorang di hadapan Tuhan sama sekali tidak bergantung pada tinggi rendahnya jabatan yang dimiliki,  mahal tidaknya aksesoris yang dikenakan atau bahkan banyak tidaknya kerbau yang dipotong dalam sebuah acara pemakaman. Sebaliknya, keindahan manusia di mata Tuhan, justru terkait erat dengan kesediaan memberi diri sepenuhnya bagi mereka yang membutuhkan pertolongan! Karenanya, meski berada dalam kelemahan, Rasul Paulus dengan yakin bisa mengatakan, “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik,.... Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, …(2 Tim. 4 : 6-8).
Pekan-pekan peringatan sengsara Kristus yang akan dijalani ini sesungguhnya merupakan saat yang tepat untuk kembali merenungkan jatidiri sebagai murid Kristus. Seberapa jauh hidup kita bersama sudah memberi makna bagi yang lain? Ataukah jangan-jangan hidup kita lebih sering memperlihatkan potret manusia yang egois, angkuh dan haus akan pengakuan diri? Di saat kita bersama rindu tentang kehidupan negeri yang sejahtera, maka sebuah perenungan penting yang terlebih dahulu harus dijawab, ialah : bersediakah kita ikut mengenakan mahkota duri dan dengannya bersedia pula menyisihkan segala keserakahan dan keangkuhan dari dalam diri kita? Selamat mengenakan mahkota duri!
(Pdt. Alfred Anggui/Mengapa Mahkota Duri/GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Jala).

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar