Minggu, 02 Oktober 2016

Mengapa Ishak Yang Harus Dipersembahkan

Refleksi Kejadian 22 : 1 – 14
Oleh : Pdt. Alfred Anggui
Satu pertanyaan penting yg muncul dari bacaan Kejadian 22:1-14 ini, ialah mengapaTUHAN harus meminta agar Ishak harus dipersembahkan sebagai korban bakaran?
Apa yang sesungguhnya Tuhan mau kita ketahui tentang diri-NYA, ketika justru yang paling penting dan berhargalah yang Tuhan minta dari umat-Nya? Atau apa yang Tuhan ingin lihat dan temukan dalam diri Abraham, ketika  Ia meminta agar Ishak, dan bukannya domba atau lembu yang harus dipersembahkan sebagai korban bakaran?
Sekiranya Tuhan meminta lembu, kambing atau domba, tentu semua lebih wajar dipahami. Tapi meminta Ishak sebagai persembahan? Ini jelas sulit dimengerti! Bagi Abraham dan Sarah, sesungguhnya jelas: Ishak bukan sekedar seorang anak. Lebih dari itu, Ishak adalah wujud pemenuhan janji Tuhan. Setelah sekian puluh tahun  hidup dalam penantian yang berkepanjangan, barulah pada umur seratus tahun Ishak diberikan Tuhan. Karena itu, ketika anak yang sudah dinantikan hingga puluhan tahun ini kemudian Tuhan minta seketika untuk diberikan kembali sebagai persembahan, maka tidakkah ini membingungkan dan merisaukan? Apa yang sesungguhnya Tuhan inginkan? Belum lagi kalau mengingat janji Tuhan bagi Abraham: “Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak” (Kej.17:6). Ketika Ishak diminta untuk dipersembahkan, lalu bagaimana lagi janji Tuhan ini akan diwujudkan? Janji Tuhan untuk memiliki anak-cucu jelas menjadi terancam dan mustahil lagi terpenuhi.
Karena itu, hal penting yang harus dipahami, ialah mengapa Tuhan meminta Abraham untuk mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran? Menarik memperhatikan perkataan Tuhan kepada Abraham ketika ia sedang bersiap-siap untuk mempersembahkan Ishak: Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan." Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." (ayat 11-12). Maknanya jelas, Tuhan ingin menemukan sikap takut akan Allah dalam diri Abraham. Dan terkait dengan upaya memberikan persembahan, menarik untuk memperhatikan makna kata“takut” (dari kata Ibrani: yare, yang juga bisa berarti hormat), yang ternyata terkait erat dengan kata Ibrani: yireh, yang berarti menyediakan (Bnd. Kej. 22:14: Tuhan menyediakan dalam TB LAI atau Jehovah Jireh). Dalam hal ini, sikap takut akan Allah sesungguhnya merupakan rasa hormat kepada Tuhan yang lahir dari sebuah kesadaran, betapa semua yang Abraham miliki, termasuk Ishak, sesungguhnya merupakan anugerah pemberian Tuhan sepenuhnya.
Beroleh seorang anak saat umur Abraham sudah mencapai 100 tahun, jelas melampaui logika pemikiran manusia.Wajar kalau Sarah kemudian tertawa saat mendengar janji Tuhan.Bisa dipahami, jika dalam keputus-asaannya Sarah kemudian meminta Abraham agar menghampiri Hagar, hambanya, guna beroleh keturunan.
Sehubungan dengan itu, kemudian tentu pula bisa dimengerti, mengapa Abraham harus menunggu penggenapan janji Tuhan sampai umur seratus tahun.Seperti pertanyaan seorang kawan: mengapa Ishak harus diberikan justru ketika organ-organ reproduksi Abraham dan Sarah mungkin tidak cukup baik lagi untuk menjaminkan kehadiran seorang anak? Jawabnya jelas: agar setiap orang sepenuhnya sadar, betapa Ishak itu sepenuhnya anugerah Tuhan, pemberian Tuhan, disediakan oleh Tuhan. Sekiranya sang anak diberikan ketika Abraham masih muda, rasanya mungkin biasa saja, tidak begitu terlihat kebesaran dan kuasa Tuhan di sana. Tapi ketika Ishak dianugerahkan saat kondisi fisik Abraham dan Sarah terasa tak mungkin lagi beroleh seorang anak, maka di sana terasa kuasa Tuhan yang luar biasa,kuasa yang membuat Abraham dan umat Tuhan sadar, bahwa semuanya toh adalah pemberian Tuhan.
Pertanyaan penting sehubungan dengan Pekan Persembahan tentunya, ialah dalam setiap persembahan yang kita berikan, adakah di sana terlihat dengan sungguh sikap takut akan Allah?Adakah hati yang penuhhormatkepada Tuhan, karena tahu bahwa semua yang saya berikan sesungguhnya adalah pemberian Tuhan juga? Mazmur 50:14 katakan:persembahkansyukur sebagai korban! Perhatikan dengan baik, bukan korban sebagai syukur, tetapi syukur sebagai korban. Artinya jelas, sikap hormat, syukur dan takut akan Allah menjadi teramat penting, sebab semua yang kita miliki adalah pemberian dan kepunyaan Tuhan. Bagaimana harus menilai? Tentu terpulang pada setiap pribadi. Namun, tentu menarik untuk membandingkan cara dan sikap kita memberikan sesuatu kepada orang lain, baik sahabat atau keluarga, dengan cara dan sikap kita dalam memberi persembahan kepada Tuhan. Kira-kira mana yang lebih memperlihatkan rasa hormat, syukur dan takut akan Allah?
Jika mengingat kisah Nadab dan Abihu, dua orang putra Imam Besar Harun yang harus mati karena hal persembahan, maka sikap dalam memberikan persembahan, tentu menjadi amat penting. Dalam Imamat 10:1b dikatakan,“Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan Tuhan api yang asing yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka”. Jika merujuk pada teks aslinya, maka sesungguhnya menarik untuk memperhatikan penggunaan dua kata yang kontras, yakni kata mempersembahkan (Ibrani: qarab) dalam kaitannya dengan api yang asing. Dalam memberikan persembahan (qarab), harusnya terlihat sebuah hubungan yang karib atau dekat dan mengenal Tuhan baik. Namun pada kenyataannya, persembahan Nadab dan Abihu justru merupakan hal yang asing dan tidak memperlihatkan pengenalan dan kedekatan mereka dengan Tuhan.

Memberi persembahan dengan rasa hormat dan syukur!
Itulah yang dialami oleh Abraham! Ia tahu betul, Ishak adalah anugerah Tuhan. Karena itulah, meskipun tentu penuh dengan pergumulan, ia tetap mengambil keputusan untuk memenuhi permintaan Tuhan. Dan bagi Tuhan sendiri, sikap Abraham jelas: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." Kata tidak segan-segan (Ibrani: chasak berarti tidak menyembunyikan atau tidak menahan), jelas memperlihatkan sikap Abraham. Sikap Abraham jelas berbeda dengan sikap Ananias dan Safira, suami istri yang kompak untuk menahan sebagian hasil penjualan tanah mereka (Kisah 5:2). Sikap Abraham juga berbeda dengan sikap orang muda yang kaya, yang karena mengingat hartanya yang banyak, kemudian batal untuk mengikut Yesus (Matius 19:22). Sebaliknya, Abraham mampu melihat dan kemudian menempatkan sepenuhnya, beragam bentuk pemberian Tuhan, pada tempat yang semestinya. Jabatan, kekayaan, kepintaran, atau apa pun, hendaknya tidak merintangi kesetiaan Abraham pada Tuhan. Apalagi jika hal tersebut sampai menggantikan posisi Tuhan dalam kehidupannya.
Sehubungan dengan itu pula, pertanyaan lebih jauh tentunya ialah, seberapa jauh setiap orang menyadari dengan sungguh, bahwa Tuhanlah yang menyediakan? Abraham sendiri, ketika Ishak bertanya padanya: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?", Abraham pun menjawab: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku."
Tuhan yang menyediakan! Kita tentu ingat kisah Elia dan Janda di Sarfat (1 Raja 17).
Ketika musim kering dan kelaparan tiba, Elia disuruh Tuhan untuk pergi mencari makanan ke seorang janda di Sarfat. Elia tidak diminta untuk pergi ke seorang pejabat kaya raya, tetapi kepada seorang janda yang tak punya apa-apa sama sekali. Namun demikian, Elia tetap saja pergi. Mengapa?Karena ia yakin, yang menyediakan bukanlah sang janda tersebut, tapi Tuhan yg menyediakan!Yang menentukan ketersediaan tepung dan minyak bukanlah jabatan dan bukan pula suami (masih ada atau tidak, hebat atau tidak, sudah pensiun atau belum)! Bukankah berkat yg paling indah bagi Abraham justru diberikan ketika ia berumur 100 Tahun?
Sang ibu janda pun tak kalah takjub. Ia sendiri sadar, bahwa tempayan dan buli-buliyang ia milikihanya tinggal menyisakan sedikit tepung dan minyak.Lalu mengapa tepung dalam tempayan dan minyak dalam buli-bulinya kemudian menjadi tidak pernah habis selama musim kekeringan melanda? Jawabnya jelas, yakni sebab tepung dan minyak pun bersumber dr Tuhan.Ketersediaan tepung dan minyak yang terus menerus, ternyata tidak bergantung pada berapa banyak persediaan atau tabungan yang kita simpan, tetapi semata pada kehadiran Tuhan yang menyediakan.
(Pdt. Alfred Anggui/Mengapa Ishak Yang Harus Dipersembahkan /GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Jala).

Artikel Terkait

Hidupku Ditentukan Tuhan

Refleksi Lukas 7 : 1 – 10
Oleh : Pdt. Alfred Anggui
Pertanyaan pertama yang muncul saat membaca kisah ini, ialah: apa yang luar biasa dalam diri sang perwira, sampai-sampai Tuhan Yesus memujinya sedemikian rupa? Betapa tidak, Yesus tidak hanya dibuat heran (ayat 9), tetapi lebih jauh Yesus juga mengatakan, bahwa “iman seperti ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel” ! Lalu apa yang istimewa dan luar biasa, yang membedakan iman sang perwira dengan iman orang-orang Yahudi kebanyakan? Tidakkah ini menarik, betapa iman yang istimewa ini tidak Tuhan jumpai dalam diri para imam atau bangsa Yahudi, tetapi justru di dalam diri seorang perwira (centurion) Romawi yang seringkali dipandang sebagai pihak luar.
Kalau kisah ini dibaca baik-baik, hal pertama yang sangat menonjol adalah cara sang perwira memperkenalkan dirinya kepada Yesus. Melalui sahabat-sahabatnya, sang perwira menyampaikan pada Yesus, “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima menerima Tuan di dalam rumahku” (ayat 6). Tidakkah ini luar biasa? Ia seorang perwira Romawi yang tidak hanya punya jabatan dan kedudukan, tetapi juga kemampuan ekonomi yang lebih dari cukup (ayat 5: sang perwira menanggung biaya pembangunan rumah ibadat orang Yahudi). Bahkan lebih dari itu, di mata para tua-tua Yahudi, sang perwira jelas disebutkan sebagai pribadi yang layak untuk ditolong (ayat 4). Dalam hal ini, di mata masyarakat, sang perwira sangat layak dihormati, tetapi di hadapan Tuhan, sang perwira justru menyebut dirinya sebagai orang yang tidak layak. Dia adalah perwira yang berhati seorang hamba, bukan justru sebaliknya, hamba berlagak perwira. Ini sering disebut dengan kenosis (pengosongan diri), yakni sebagaimana yang dilakukan oleh Kristus sendiri: Kaya, tapi terlihat miskin; mulia tapi terlihat sederhana.
Sama seperti buat orang kebanyakan kini, identitas itu sesungguhnya sangat penting. Orang bisa marah ketika ada kesalahan dalam penulisan nama ataupun gelar (lihat di undangan-undangan nikah). Karena itulah, ketika sang perwira justru datang memperkenalkan dirinya dengan cara demikian, tanpa embel-embel pangkat dan status sosial, Yesus justru begitu terkesan. Betapa tidak, dalam diri sang perwira sesungguhnya terlihat betul sebuah sikap kerendahan hati di hadapan Tuhan, yang pada gilirannya juga berarti ketergantungan sepenuhnya pada Tuhan. Ingat Matius 5:3 “Berbahagialah mereka yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga”. Miskin di hadapan Allah! Itulah iman sang perwira! Dia sesungguhnya memiliki banyak hal untuk dibanggakan, tetapi di hadapan Tuhan, ia sadar betul, bahwa ia sama sekali bukan siapa-siapa!
Kerendahan hati atau miskin di hadapan Tuhan merupakan hal yang sangat penting, sebab mujizat dan karya besar Tuhan justru seringkali dimulai dari kerendahan hati dan kebergantungan sepenuhnya manusia kepada Tuhan. Itu sebabnya Yesus sendiri kemudian menegaskan, “...jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan Sorga” (Mat.18:3). Menjadi seperti anak kecil berarti menjadi orang yang sepenuhnya bergantung kepada Tuhan (persamaan semua anak kecil adalah mereka sepenuhnya bergantung pada orang tua). Ingat kisah Daud saat harus bertempur melawan Goliat. Ia memang tak mahir untuk menggunakan pedang dan baju perang. Demikian pula jika dibandingkan dengan Goliat, tentara Filistin yang sangat terlatih dan berpengalaman, Daud jelas bukanlah apa-apa. Namun kisah kemenangannya atas Goliat kemudian bisa terjadi, sebab satu hal yang menjadi keyakinan Daud yang diucapkan kepada Goliat: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam” (1 Sam. 17:45). Terlihat jelas sikap yang sepenuhnya bergantung pada Tuhan. Yang soal bukan seberapa besar Goliat atau seberapa pintar dan lihai Daud, melainkan pada seberapa jauh seseorang mau mengandalkan Tuhan sepenuhnya!
Hal kedua yang istimewa dalam diri sang perwira (yang sesungguhnya terkait juga dengan bagian yang pertama), adalah pesan iman sang perwira: “tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (ayat 7). Tidakkah ini luar biasa? Kata-kata sang perwira mengandung serangkaian makna iman yang luar biasa! Dia seorang perwira yang memiliki berbagai bentuk kehormatan dan kekuasaan. Namun dia sepenuhnya sadar, betapa kesembuhan hambanya, masa depan anak-anaknya, selesainya persoalan keluarga, sepenuhnya hanya ditentukan oleh apa yang Tuhan katakan. Dalam hal ini, kesembuhan hambanya ataupun terpecahkannya berbagai persoalan dalam keluarganya, adalah sama sekali tidak terkait dengan jabatan ataupun kedudukannya. Sebaliknya, ini sepenuhnya hanya ditentukan oleh apa yang Tuhan katakan.
Yang mungkin soal adalah, berapa banyak orang yang sungguh-sungguh meyakini kuasa dan kebesaran dari sabda atau perkataan Allah sendiri. Ingat bagaimana dunia dan isinya ini diciptakan? Semua (kecuali manusia) hanya diciptakan dengan sabda atau perkataan Allah. Melalui nabi Yesaya, Allah juga menegaskan, bahwa: “demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepadaku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang kusuruhkan kepadanya” (Yes. 56:11). 
Luar biasa iman sang perwira. Hal terakhir yang menarik diperhatikan, adalah kenyataan, betapa iman sang perwira sebagai kepala keluarga, ternyata tidak berdampak langsung pada dirinya. Sebaliknya, yang justru merasakan dampak langsung dari imannya adalah hambanya sendiri, anggota keluarganya sendiri (pada masa itu, seorang hamba selalu dipandang merupakan bagian dari keluarga sang majikan). Kita tentu ingin memiliki iman seperti itu, iman yang kita yakini juga akan memiliki dampak bagi keselamatan orang-orang yang kita kasihi. Amin.
(Pdt. Alfred Anggui/Hidupku Ditentukan Tuhan /GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Jala).

Artikel Terkait

Mengapa Mahkota Duri

Sebuah Refleksi Memperingati Sengsara Kristus.
Oleh : Pdt. Alfred Anggui
Raja dengan mahkota yang berhiaskan emas dan permata, tentu saja merupakan dua hal yang memang berpadanan. Namun demikian, bagaimana bila seorang Raja justru “dianugerahi” sebuah mahkota duri? Tidakkah ini merupakan dua hal hal yang justru saling bertolak belakang? Jika mahkota yang berhiaskan emas dan permata mencerminkan potret kebesaran seorang raja, maka pesan apa yang mungkin terungkap dari sebuah mahkota duri? Secara sepintas, pandangan mata manusia yang pada umumnya memang sudah dijejali dengan keserakahan dan keangkuhan, tentu saja tidak akan pernah bisa melihat keindahan dan keluhuran makna sebuah mahkota duri, melainkan sebaliknya : hanya sebuah potret dan makna tentang deretan kepedihan dan kehinaan yang amat dalam, serta ketidakberdayaan belaka! Namun jika demikian, mengapa Yesus secara sadar justru kemudian memilih untuk menerima dengan penuh komitmen, mahkota duri yang “dikenakan” padaNya? Pesan apa yang sebenarnya Yesus ingin perlihatkan melalui mahkota duri yang dikenakanNya? “Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja orang Yahudi!" (Mat. 27 : 29).
Pilihan Hidup untuk Setia
Jalan kehidupan yang dipilih oleh Yesus memang amat sulit untuk dimengerti oleh logika manusia, utamanya logika yang sudah terlalu banyak dirasuki oleh keserakahan dan pementingan diri sendiri. Tak heran, sekali waktu, sesaat setelah selesai berkhotbah tentang perkataan Yesus : “lebih baik memberi daripada menerima”, seorang bapak kemudian lantas datang bertanya, “Pak pendeta, apakah pesan itu masih realistis?”. Tentu saja pertanyaan ini sangat aneh dan ironis, sebab nampak jelas betapa perkataan Yesus justru menjadi asing dan aneh di telinga murid-murid Tuhan sendiri! Tak jauh berbeda dengan pandangan Petrus yang sulit menerima kenyataan tentang penderitaan Yesus! Ketika Yesus memberitahukan murid-muridNya tentang jalan sengsara yang harus Ia tempuh, Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." (Mat. 16 : 22). Jalan mahkota duri nampak sulit diterima, sebab dipandang tak sesuai dengan jatidiri seorang Mesias Sang Juruselamat.
Yang kemudian menarik diperhatikan, ialah tanggapan Yesus kemudian terhadap apa yang dikemukakan oleh Petrus. Kepada Petrus, Yesus mengatakan: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." Nampak jelas terlihat, apa makna mahkota duri bagi Yesus sendiri! Bagi Yesus, mahkota duri adalah konsekuensi dari sebuah pilihan hidup untuk setia kepada Bapa! Tak ada tempat untuk mendengarkan kata hati sendiri! Sepahit apapun cawan yang harus Ia minum, pada akhirnya dengan tegar Ia mengatakan, "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!"
Yesus sendiri sesungguhnya bukan tanpa pilihan! Ia bisa saja lari dan berpaling dari rencana sang Bapa. Ketika Petrus melakukan perlawanan saat Yesus hendak ditangkap, yakni dengan memotong telinga Malkhus, dengan jelas Yesus mengatakan, “...kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? (Mat. 26 : 53)
Mahkota duri memperlihatkan sebuah pesan tentang kesetiaan pada panggilan! Sebagai umat milik Tuhan, tidak ada hal lain yang harus didahulukan, selain setia dan taat sepenuhnya kepada Sang Bapa! Seperti kata rasul Paulus kepada jemaat di Galatia : adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus” (Gal. 1 : 10). Setiap orang mungkin saja boleh kehilangan berbagai hal, tetapi jangan sampai kehilangan kesetiaannya kepada Tuhan! Tak heran, jika Yesus kemudian pernah berujar, “Setiap orang yang siap membajak, tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk.9 : 62). Karena itu, di saat banyak orang menganggap begitu rendah dan karenanya lantas begitu mudah menggadaikan, bahkan meninggalkan panggilan dan jatidirinya sebagai milik Kristus, hanya karena sebuah persoalan yang mungkin begitu sederhana, mahkota duri kiranya bisa mengingatkan kembali makna kesetiaan pada panggilan Tuhan!
Perlawanan Terhadap Keangkuhan
Maslow, pernah mengemukakan sebuah teori tentang tingkatan kebutuhan hidup manusia. Menurutnya, puncak tingkatan kebutuhan manusia adalah terkait dengan aktualisasi diri atau kebutuhan akan pengakuan diri. Apa artinya? Keangkuhan atau sebuah kebutuhan untuk mendapat pengakuan atas status atau identitas diri seseorang ternyata memang seringkali menjadi bagian kehidupan seseorang. Karenanya, meski sudah beroleh kedudukan yang tinggi, ataupun juga kekayaan yang melimpah, namun bila dirinya belum dikenal dan diakui oleh orang sekitar atau sekampung, nampak bahwa itu belum cukup. Murid-murid Yesus sendiri pun tak luput dari hal seperti ini. Mereka acap kali berdebat, tentang siapa yang terbesar di antara para murid? Satu dari tiga pencobaan yang dialami oleh Yesus di padang gurun, sesungguhnya juga merupakan godaan yang terkait dengan kebutuhan akan pengakuan diri! Permintaan untuk menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah, tempat banyak orang berkumpul, merupakan godaan untuk beroleh pengakuan diri, yakni dengan melakukan mujizat di depan banyak orang! Yesus jelas menolak! Bahkan di saat para ahli Taurat dan orang Farisi meminta sebuah tanda dariNya agar mereka bisa percaya, Yesus bahkan mengatakan, tidak ada tanda yang akan diberikan selain tanda Nabi Yunus, yakni tanda yang jelas menunjuk pada peristiwa kematian Yesus Kristus (Mat. 12 : 38-40).
Terkait dengan hal tersebut, mahkota duri sesungguhnya hendak memberikan sebuah pesan penolakan terhadap keangkuhan. Padanan sebuah mahkota bukanlah emas dan permata, melainkan duri yang tajam dan menyakitkan. Tak heran, semasa hidupNya Yesus bahkan melakukan sebuah tindakan yang tak pernah dilakukan seorang tuan, guru atau majikan pada masa itu, yakni membasuh kaki murid-muridNya. Saat mengambil kain lenan dan mengikatkannya pada pinggangNya, Yesus tanpa ragu mengambil peran seorang hamba. Ia membasuh kaki murid-muridNya, lalu menitipkan sebuah pesan sarat makna bagi mereka: “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu” (Yoh.13 : 14).
Makna semuanya ini jelas : mahkota duri merupakan sebuah tawaran pola hidup bagi setiap murid Tuhan. Keindahan seseorang di hadapan Tuhan sama sekali tidak bergantung pada tinggi rendahnya jabatan yang dimiliki,  mahal tidaknya aksesoris yang dikenakan atau bahkan banyak tidaknya kerbau yang dipotong dalam sebuah acara pemakaman. Sebaliknya, keindahan manusia di mata Tuhan, justru terkait erat dengan kesediaan memberi diri sepenuhnya bagi mereka yang membutuhkan pertolongan! Karenanya, meski berada dalam kelemahan, Rasul Paulus dengan yakin bisa mengatakan, “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik,.... Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, …(2 Tim. 4 : 6-8).
Pekan-pekan peringatan sengsara Kristus yang akan dijalani ini sesungguhnya merupakan saat yang tepat untuk kembali merenungkan jatidiri sebagai murid Kristus. Seberapa jauh hidup kita bersama sudah memberi makna bagi yang lain? Ataukah jangan-jangan hidup kita lebih sering memperlihatkan potret manusia yang egois, angkuh dan haus akan pengakuan diri? Di saat kita bersama rindu tentang kehidupan negeri yang sejahtera, maka sebuah perenungan penting yang terlebih dahulu harus dijawab, ialah : bersediakah kita ikut mengenakan mahkota duri dan dengannya bersedia pula menyisihkan segala keserakahan dan keangkuhan dari dalam diri kita? Selamat mengenakan mahkota duri!
(Pdt. Alfred Anggui/Mengapa Mahkota Duri/GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Jala).

Artikel Terkait

Iman Yang Teruji

 ...Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu -- yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api (1Petrus 1:7)
Ibu Merry berusia 72 tahun. Ia menderita kanker lever stadium akut. Dokter sudah memvonis bahwa hidupnya hanya tinggal hitungan bulan. Perutnya membesar, dan kerap kali ia harus menanggung kesakitan di sekujur tubuh. Suatu hari, saya dan istri menengoknya di rumah sakit. Kami berbincang-bincang. Wajahnya yang kurus pucat tidak melunturkan semangat dan senyumnya. Saya membacakan firman Tuhan. Sebelum berdoa, saya mengajaknya bernyanyi, sebab ia senang menyanyi. "Tantemau nyanyi lagu apa?" tanya saya. "Lagu Berserah kepada Yesus," jawabnya. Kami pun bernyanyi bersama. Sungguh luar biasa. Seseorang yang seakan-akan sudah dekat dengan kematian dan di tengah deraan sakit yang hebat, melantunkan pujian: "Aku berserah, aku berserah, kepada-Mu Juru Selamat, aku berserah." Inilah iman yang sejati. Sangatlah biasa bila dalam keadaaan berkelimpahan, hidup senang, dan sehat walafiat, seseorang memuji-muji Tuhan. Akan tetapi, sungguh istimewa bila di tengah kesulitan hidup, dalam pencobaan yang berat, seseorang masih bisa memuji dan mengagungkan nama Tuhan.
Surat Petrus yang pertama ditujukan kepada umat kristiani yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil, dan Bitinia (ayat 1). Mereka tengah mengalami tekanan dan penganiayaan hebat akibat iman mereka. Namun, Petrus mengingatkan mereka untuk tetap gembira walau harus menanggung semua kesulitan itu (ayat 6). Nasihat ini juga berlaku bagi kita yang mengalami tekanan hidup. Tetaplah bergembira. Pandanglah pencobaan sebagai sarana untuk "membuktikan" kemurnian iman kita.
(Iman Yang Teruji/GT Jemaat Kota, Kelapa Gading/gloopic.net/Jala).
IMAN, SEPERTI JUGA CINTA,
TERUJI PADA SAAT YANG SULIT

Artikel Terkait

Roh Yang Memimpin Pada Ketaatan

Sebagai manusia kita memiliki kecenderungan untuk hidup menuruti keinginan daging dari pada tunduk kepada Tuhan dan dihidup dipimpin oleh Roh. Ada tertulis : “... roh memang penurut, tetapi daging lemah.”(Matius 26 :41)
Memang tidak mudah menjauh dari dosa dan melepaskan diri dari ikatan dosa yang selama ini membelenggu hidup . Tanpa adanya pertobatan sejati kita akan selalu ada dalam jerat iblis. Sia-sia saja membanggakan diri diri karena status kita sebagai orang kristen atau anak Tuhan padahal cara hidup kita sama dengan orang-orang dunia yang belum diselamatkan, sebab firman-Nya dengan tegas mengatakan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah : apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”  (Roma 12:2).
Kita harus memiliki kualitas hidup yang berbeda sebagao ciri khas yang membedakan kita dengan orang dunia. Kita harus bisa menjadi saksi Kristus, hidup seperti surat terbuka yang bisa dibaca oleh semua orang, sebab dunia membutuhkan bukti. Tuhan menuntut kita untuk menghasilkan buah-buah Roh (Galatia 5:22-23). Dan kita hanya bisa berbuah jika kita tinggal di dalam Tuhan dan Dia di dalam kita (Yohanes 15:5). Tinggal dalam Tuhan artinya selalu dekat dengan-Nya serta taat melakukan Kehendah-Nya, sehingga Tuhan akan bekerja dalam hidup kita melalui karya Roh Kudus yang akan memimpin kita pada ketaatan : “....... Roh kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran,” (Yohanes 16:3a).
Kadang kita ingin melepaskan diri dari perbuatan daging yang menyesatkan, tapi iblis yang penuh tipu muslihat tidak menyerah begitu saja. Iblis selalu berusaha melemahkan iman anak-anak Tuhan sehingga banyak dari kita yang masih saja jatuh dalam dosa yang sama dengan melakukan penyembahan berhala, hidup dalam perzinahan, pesta pora dan hawa nafsu, yang tanpa kita sadari telah mengotori Bait Roh Kudus yang ada di dalam kita (1Korintus 6:19-20). Untuk hidup dalam pimpinan Roh Kudus kita memerlukan Tuhan untuk mengubah hati kita
(YK/Roh Yang Memimpin Pada Ketaatan//GKP Jemaat Effatha, Cakung/gloopic.net/Jala).

“Kamu akan Kuberikan hati yang baru dan roh yang baru di dalam hatimu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.”

Artikel Terkait

Perjamuan Tuhan

“Jadi baarangsiapa dengan cara tidak layak makan roti atau minuman cawan Tuhan, ia akan berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan, karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu  ia makan roti dan minum dari cawan itu.”
Matius 26 menceritakan salah satu peristiwa perjamuan malam yang paling terkenal dalam sejarah umat manusia yaitu Perjamuan Terakhir. Yesus berkata, “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” (Matius 26:26). “Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata : “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian , yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” (Matius 26:27-28).
Yesus saat itu berbicara secara simbolis. Yang Dia katakan bukanlah arti sesungguhnya secara harafiah. Yesus pernah mengatakan bahwa Dia adalah roti hidup, namun Dia juga mengatakan bahwa Dia adalah Pintu? Jadi apakah kita kemudian memperdebatkan apakah Yesus sebenarnya  adalah Roti atau sebuah Pintu? Tentu saja tidak. Demikian halnya dengan pernyataan Yesus saat Perjamuan Terakhir, jangan kemudian memperdebatkan bahwa roti dan isi cangkir tersebut sebenarnya adalah tubuh dan darah kristus yang sesungguhnya secara harafiah. Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa terjadi perubahan secara spiritual yang mengubah isi cangkir menjadi darah Yesus dan roti menjadi tubuh-Nya.
Oleh karena itu, saat kita mengambil bagian dalam sebuah Perjamuan Kudus, janganlah terlalu memusingkan seperti apa wujud yang ditampilkan sebagai  tubuh dan darah Kristus. Namun di sisi lain, jangan mengurangi makna Perjamuan Kudus dengan berpikir bahwa semua hal itu tidak ada artinya.
Alkitab memperingatkan kita akibat dari mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus tanpa bersungguh-sungguh menyadari apa makna sesungguhnya  dari Perjamuan tersebut (1 Korintus 11:23-30). Roti dan anggur itu sendiri  bukanlah elemen suci, namun keduanya mewakil sesuatu yang sangat suci. Jadi, dengan rasa hormat kita dapat mengikuti Perjamuan Kudus di Gereja dan menyadari bahwa hal tersebut adalah simbol dari apa yang telah Yesus Kristus lakukan untuk kita di kayu salib.
(YK/Yesus Sahabat Sejati/GKP Jemaat Effatha, Cakung/gloopic.net/Jala).

Artikel Terkait

Sabtu, 01 Oktober 2016

Pohon Ara Yang Tidak Berbuah

“Seorang yang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan dia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya,” (Lukas 13:6).
Membaca perikop ini kita akan teringat sebuah nyanyian nabi Yesaya tentang kebun anggur. Tertulis, “Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur. Ia mencangkulnya dan membuang batu-barunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia medirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam.” (Yesaya 5:1b-2). Ini adalah ratapan nabi Yesaya mengenai kegagalan bangsa Israel yang digambarkan seperti pohon anggur yang gagal menghasilkan buah anggur yang baik, justru yang dihasilkan adalah buah yang asam. Ratapan inilah yang mengilhami Yesus dalam mengisahkan perumpamaan pada perikop ini (Lukas 13:6-9).
Secara geografis daerah Palestina dikenal sebagai wilayah pegunungan yang sangat subur, sehingga tanaman buah-buahan banyak tumbuh di sana : zaitu, anggur, delima dan juga pohon ara. Karena kondisi tanahnya yang sangat subur, pohon ara pun dapat bertumbuh subur di mana-mana. Tapi pohon ara dalam perikop ini sungguh aneh dan lain dari pada yang lain, karena pohon ara ini ditanam secara khusus di dalam kebun anggur. Artinya pohon ara ini beroleh perlakuan yang sangat istimewa dari pemilik kebun anggur. Tetapi kenyataannya pohon ara tersebut tetap saja tidak menghasilkan buah. Dikatakan, “Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya.” (Lukas 13:7a). Pada tahun pertama masih bisa dimaklumi, mungkin masih terlalu muda untuk berbuah. Namu sampai pada tahun ketiga pohon ara itu tetap saja tidak menghasilkan buah. Pohan ara itu telah mengecewakan! Lalu pemilik kebun itu berkata dengan tegas, “tebanglah pohon ini untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma.” (Lukas 13:7b).
Ini adalah gambaran dari kehidupan kita orang percaya; kita yang sesungguhnya berada di luar anugerah-Nya oleh kasih-Nya kita secara khusus dipilih, dipanggil menjadi umat-Nya, dan diangkat sebagai anak-anak Allah dan diselamatkan. Suatu anugerah yang luar biasa! Sebagai umat-Nya, marilah kita secara aktif berbuat, menghasilkan sesuatu yang berguna, serta tekun berusaha melalui setiap panggilan pelayanan yang diberikan, sehingga bisa menjadi berkat dimana pun kita berada.
(YK/ Pohon Ara Yang Tidak Berbuah/GKP Jemaat Effatha, Cakung/gloopic.net/Jala).

Artikel Terkait